Jumat, 18 Januari 2019

Searching Day

18 Januari 2019...

[18.41]

Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adalah lebih banyak "searching" di Internet. "Rencana" saya untuk mencuci tidak terlaksana lagi. Padahal itu menjadi rencana saya hari ini.

 

Jadilah saya lebih banyak "berseluncur" di dunia maya (aduh kenapa bau "kopiah" saya di depan saya menusuk sekali, besok saya jemur kau!). Adapun hasil seluncuran saya di dunia maya seharian ini. Saya kemudian dipertemukan dengan berbagai macam "informasi". Seperti informasi tentang "Warkop DKI" mengenai sejarah, pendiri dan personilnya, informasi sepak "bola Indonesia" (kata salah satu Nitizen "Liga Busuk" yang dirindukan), informasi "politik" di Indonesia, dsb.

Saya ingin bercerita tentang Warkop DKI. Menurut penelusuran saya mengenai Warkop DKI mereka ternyata tidak hanya tiga orang saja, tapi personil "awalnya" adalah 5 orang. Saya sebutkan disini nama-namanya yang saya ingat, Rudi Badil, Nanu Mulyono, Kasino, Dono dan Indro. Awalnya memang hanya 3 orang yaitu Rudi, Nanu dan Kasino kemudian belakang bergabunglah Dono dan Indro. Sedangkan yang paling muda adalah Indro, karena "pertamakali" dia gabung masih kelas 3 SMA, sedangkan yang lainnya semuanya sudah kuliah di UI.

Namun dari kelima personil tersebut yang masih hidup sekarang tinggal dua orang yaitu Rudi Badil (pendiri Warkop DKI) dan Indro (yang paling akhir gabung). Sedangkan yang lainnya Kasino, Nanu dan Dono sudah "almarhum". 

Apa yang mau saya ceritakan disini?

Setelah saya mengetahui kelima personil Warkop tersebut. Saya kemudian "penasaran" dengan sosok Rudi Badil sekaligus Founder dari Warkop DKI ini, karena jarang "kelihatan" di TV sedangkan yang keempatnya pernah saya lihat dan pemeran utama Warkop DKI, walaupun konon si Nanu hanya tampil dua kali dalam Film Warkop DKI sebelum "dipanggil". Jadi praktis yang sangat sering muncul dalam Film Warkop DKI adalah Dono, Kasino dan Indro (DKI). Adapun yang sampai sekarang masih "eksis" dan wara wiri di TV adalah tinggal Indro.

Kemudian karena saya penasaran dengan sosok Rudi Badil ini, saya melakukan penelusuran di Internet baik melalui "flatprom" you tube atau google crome. Ternyata pak Rudi adalah seorang wartawan "senior" yang bekerja di Kompas, juga penulis buku dan kawan dekat dengan Soek Hok Gie (yang belum tahu siapa Gie, saran saya cari di Internet, ya, hehe).

Pak Rudy tidak pernah muncul dalam film Warkop DKI, karena memiliki sifat "demam panggung" katanya. Namun ketika Warkop DKI belum masuk ke dunia Film, beliau masih sering tampil dengan Warkop DKI di Radio Prambros. Setelah Warkop DKI "beralih" dari Radio ke dunia Panggung dan Film. Pak Rudi kemudian berhenti dan menjadi wartawan. Perawakannya sekarang sudah memasuki usia "sepu". 

Kemudian cerita selanjutnya, setelah saya searching tentang siapa Rudi Bagil ketemulah saya dengan sosok yang lain yaitu Pepih Nugraha. Beliau saya kenal karena tulisannya di internet itu, yang mengulas siapa Rudi Bagil. Seperti biasa ketika saya penasaran dengan seseorang maka saya "cari" profilnya di Internet. Saya tertarik dengan Pepih Nugraha ini karena tulisan yang dia tulis rapi dan enak dibaca. Setelah saya searching di Internet tentang profil beliau, kemudian saya temukan bahwa beliau adalah "mantan" wartawan senior Kompas. Dan boleh di bilang beliau juga adalah junior dari pak Rudi Bagil.

Pak Pepih menjadi wartawan di Kompas yang sebelumnya seorang Pustakawan. Karena suka "membaca" buku-buku yang banyak di perpustakaan kompas itu (namun sebenarnya memang sudah punya cita-cita jadi wartawan), kemudian beliau mencoba untuk menulis artikel dan dikirim ke Kompas sendiri dan media lain. Dan katanya tulisannya hampir selalu di terbitkan bahkan terkadang karena tidak "enak" namanya sering muncul dia pake' nama samaran. Bahkan honor dari tulisan-tulisan artikelnya tesebut lebih banyak dari gajinya sebagai pustakawan.

Setelah banyak menulis, kemudian beliau "diangkat" menjadi wartawan. Akhirnya beliau menjadi wartawan Kompas bertahun-tahun lamanya. Namun pak Pepih sudah resign dan mendirikan serta menjadi CEO Starup yang dia buat sendiri yaitu Selasar.com dan PepNews.com. 

Ketika masih di Kompas ternyata beliau adalah founder dari "Kompasiana". Yaitu platform untuk warga yang ingin menuangkan tulisannya di media tersebut.

Yang membuat saya tertarik dengan pak Pepih ini adalah "gaya" tulisannya yang menarik dan enak untuk di baca. saya "berharap" mudah-mudahan saya bisa memiliki model tulisan seperti beliau. Amin.

Kemudian informasi yang "menarik" yang lain, dari searching saya hari ini yaitu tulisan dari pak Ahok di akun IG-nya yang akan segera bebas tanggal 24 Januari nanti. Tulisannya sungguh "menyentuh", berikut saya tampilkan SS nya.

---SS TIDAK TERBACA---

Kamis, 17 Januari 2019

5 Menit Persiapan Khutbah Jumat


11 Januari 2019....

[20.19]

Hari ini saya tidak keluar karena bertepatan dengan hari jumat dan juga tidak ada yang terlalu mendesak saya urus di luar. Sebenarnya rencananya, saya akan membuat artikel-artikel atau karya ilmiah yang akan saya submit di jurnal-jurnal. Akan tetapi saya kemudian tidak bergairah untuk keluar alias lagi malas.

Kemungkinan besok atau hari senin saya akan ke kampus lagi menyelesaikan persoalan pengirim karya ke jurnal-jurnal untuk keperluan munaqoshoh dan lainnya. Sekalian untuk mengecek permohonan pembimbing saya apakah sudah di kerjakan atau belum. Kalau belum maka saya akan berkonsultasi lagi dengan pihak TU itu.

Adapun agenda saya hari ini adalah lebih banyak santainya sebenarnya, karena terlalu santai saya kemudian tidak menyadari bahwa saya memiliki jadwal untuk khutbah jumat. Tadinya saya iseng sekitar 5 menit sebelum masuk shalat jumat untuk mempersiapkan materi khutbah. Karena biasanya bila tidak ada yang tampil maka secara otomatis saya yang akan di tunjuk. 

Atau secara moral siapa lagi yang akan tampil bila tidak ada yang siap untuk khutbah. Maka tadi saya kemudian menyiapkan materinya yang saya ambil di grup WA. Walaupun materinya khutbahnya belum terlalu masuk ke subtansi masalah keagamaan dalam konteks hari ini. namun materinya adalah lebih kepada keumuman pembahasan dalam materi khutbah.

Ketika di jalan menuju masjid, kemudian saya berpapatan dengan salah satu santri, lalu ia mengatakan kepada saya,

A  : "mas, jadwalnya ya?". 
S  : "Ahh, masak". Jawab saya.
A : "Iya, ini kan jumat legi". Lanjut dia.
S : "oohh, iya kalau legi itu jadwal saya". 
A : "Mas udah siapkan?". 
S : "Iya siap". Jawab saya dengan sedikit ragu. Untung tadi ada persiapan sedikit untuk tampil.

Setelah sampai di masjid, ternyata benar orang-orang pada nunggu khatib. Saya kemudian langsung naik mimbar kemudian mengucapkan salam, adzan dan menyampaikan khubat jumatnya.



Kamis, 03 Januari 2019

Ujian UAS Terakhir


2 Januari 2019...

Untuk catatan hari ini, saya tulis aja di tempat halte TU ini , takutnya sebentar kecapaian langsung tidur dan tidak menulis lagi seperti kemarin. Saya menulis ini pada jam 18.36 Malam suasana di halte janti Selatan ini bising dengan lalu lalang kendaraan, dan gelap malam diterangi oleh lampu hasil ciptaan tomas alva edison. Saya menunggu BIS TU tujuan prambanan bersama dengan beberapa orang saja, tidak ramai.

Ruangannya seukuran dengan halte sambilegi, namun yang disini lumayan besar dikit. ....... Karena catatan ini terhenti tadi...  Sekarang sudah ada diatas kasur...  Kemungkinan tidak akan efektif untuk menulis catatan yang menarik ini hari ini. Maka saya lanjut besok subuh.... 

....

ok subuh ini kita lanjutkan, jadi semalam saya terhenti menulis catatan di halte janti selatan karena ada anak-anak datang sehingga mengharuskan saya untuk mengobrol dengannya, tidak mungkin juga saya melanjutkan catatan saya bila dia ada, kurang mood aja. bukan apa-apanya dia adalah salah satu anak didik saya jadi kalau saya asyik menulis kemudian tidak menanggapinya, saya tidak enak aja.

lanjut, jadi semalam saya di halte janti selatan menunggu Bis tujuan Prambanan. seperti biasa Bisnya datang lama sekali dari habis maghrib saya menunggu isya baru nongol tu Mobil besi berwarna kuning kehijaun (pake bahasa-bahasa sini siki' lah, 'eh apalagi tu siki', wah ini pengaruh My Stupid Boss'). setalah Bisnya datang kemudian saya meluncur pergi walaupun harus berdiri bergelantungan. 

namun saya tidak lama berdiri karena penumpang satu persatu keluar. saya pun dapat tempat duduk favorit saya di samping driver. tempat duduknya ada di atas sedikit sedangkan tempat duduk yang banyak itu ada di bawah saya. pas di tempat duduk saya ada bapak-bapak duduk yang sesekali menyentuh saya, tapi saya hiraunkan saja. karena dia seperti orang gila', bicara-bicara sendiri. penampilannya juga biasa saja pake baju kokoh yang lusu, rambut, janggut dan kumis yang berantakan. sedangkan di depan dia duduk seorang gadis putih lumayan cantik, kemungkinan masih sekolah. entah dari mana malam-malam baru pulang. dan didepan saya ada  perempuan yang menggenakan masker sehingga cuma mata dan jidatnya yang putih yang kelihatan disampingnya ada mamak-mamak, klu ini biasa aja ngk usah disebut ciri-cirinya. hehe

ehh, tapi bukan perjalan saya pulang yang menjadi fokus catatan saya hari ini. tapi catatan saya hari ini mengenai saya berangkat mengikuti UAS yang terakhir di semester 3 ini, dan mungkin ini adalah ujian terakhir saya selama menempuh magister di UIN Suka. paginya sebelum saya berangkat ke kampus, seperti biasa saya mengedit-mengedit sedikit tugas-tugas yang saya akan kumpul, seperti proposal penelitian diedit lagi karena hari senin kemarin baru selesai di revisi oleh ibu dosennya.

selesai saya edit, saya makan dulu, mandi dan langsung berangkat ke kampus pusat untuk ngeprint semua tugas-tugas tersebut jumlahnya ada tiga, proposal yang dijadikan tugas UAS, proposal yang akan di ACC untuk dijadikan persyaratan pengajuan pembimbing dan tugas individu laporan FS. saya harus berburu dengan waktu karena jam dimulainya ujian 9.20. sedangkan saya harus ke kampus untuk ngeprint terlebih dahulu. kenapa kok tidak ngeprint di tempat saya yang juga ada? saya tidak disana karena bayarannya lumayan mahal, saya mau belajar untuk berhemat. mungkin karena kedepannya perjalanan hidup saya akan lebih berbeda, yang bukan anak-anak sekolahan lagi. jadi yang seperti itu, sekarang mulai saya pelajari. sebelum-sebelumnyanya saya dapat kiriman uang, saya ngk tahu uangnya habisnya kemana dan dalam tempo yang sekingkat-sekingkatnya pula.

olehnya itu saya mengeprint ke kampus pusat yang di sana lumayan murah karena di sana memang pusatnya penyedian jasa keperluan bagi mahasiswa-mahasiswa khususnya mahasiswa UIN. kalau tempat saya adanya cuma satu dua dan itu lumayan mahal, saya hanya mengeprint disini (prambanan) kalau saya lagi kepepet aja. sebanarnya sebelum saya kesini saya sudah punya niatan untuk membeli print namun apalah daya hidup masih disubsidi, bapak saya sebenarnya uangnya ada, namun karena terlalu perhitungan jadilah seperti ini. dia tidak paham apa kebutuhan anaknya. (udahlah, kalau masalah bapak saya tu, mungkin nanti ada babnya tersendiri).

lanjut, saya sampai di kampus pusat atau tempat ngeprint itu, tiba-tiba dari kejauhan ada suara memanggil saya,"eh, mas, mau kemana?". saya perhatikan ternyata suara itu teman sedaerah saya yang dari sulawesi tengah itu, yang dari kejauhan tadi tidak begitu nampak bagi saya karena berhubung mata saya juga udah mines, dia memakai pakaian batek lengan panjang tapi pake celana bokser selutut berwarna biru, sangat kontradiktif penampilanmu saudara."enggk, ini mau ngeprint, ehh mas, saya ngeprint dulu ya saya buru-buru". jawab saya. "oke mas, hati-hati mas". "Oke".

saya cari tempat print yang kira-kira bisa langsung dilayani tampa ngantri lagi, saya dapat tempatnya yang hanya dijaga oleh bapak-bapak yang umurnya kira-kira masih 30-an. perkiraan saya dia yang punya sendiri tempat tersebut, beda dengan tempat-tempat disebalahnya yang memang ramai dengan komputer dan pasilitas yang lain tapi orang-orang yang menjaga tempat tersebut adalah para karyawan bukan pemiliknya. kalau yang tempat saya ini sepertinya dia pemiliknya sendiri, orangnya juga ramah ngajak makan saya lagi. kalau karyawan kan beda ya? dari tatapan dan raut mukanya aja udah beda, mungkin habis dimarahi bosnya atau gaji kurang atau gajinya belum dibayar (maaf ya para karyawan, kalau tidak ada kalian siapa yang mau jadi karyawan dan tidak akan ada yang jadi bos, jadi hidup punya pilihan mau jadi bos atau karyawan kalau karyawan kerjanya fokus untuk mengerjakan yang menjadi tanggung jawabnya kemudian tinggal menerima gaji sedangkan jadi bos pusing memikirkan semuanya dan semuanya punya kekurangan dan kelebihannya tinggal kita pilih yang mana sesuai dengan kemampuan kita). 

lanjut, saya kemudian ngeprint ketiga item tadi dan semuanya di jilid, setelah selasai saya bayar semuanya 36 ribu rupiah (seingat saya). setelah itu saya langsung ke tempat halte untuk menunggu Bis tujuan Timur (kata orang sini, menunjuk arah dengan arah jarum kompas), atau tepatnya bis yang mengarah kampus sambilaga tempat kuliah kami magister FITK, tidak menunggu berapa lama bisnya datang. bis kali ini seperti berpihak kepada saya yang lagi buru-buru mau UAS. saya sampai di kampus sambilaga jam 9.10 masih ada 10 menit lagi sebelum waktu UAS dimulai. berhubung UAS kali ini berbeda dengan UAS sebelumnya karena ada ujian lisannya. Maka terjadilah perbedaan pendapat antara kami. 

Ibu dosen kami tidak jelas apa maksud dari tugas UAS yang dia buatkan PDF lalu dibagi ke mahasiswa itu (maaf bu bukan menjelekkan, ibu orangnya baik dan pintar cuma perlu sedikit memej dengan baik tugas-tugas mahasiswa yang diperintah kepada mahasiswa agar jelas dan lebih terarah sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat diantara kami). beliau mengatakan ada tugas individu dikumpul kemudian juga lisan, jadilah saya membuat laporan individu itu, yang ternyata cuma saya yang buat dan teman saya yang satu daerah itu, karena dia mengikuti saya juga. 

kemarin saya juga mengatakan bahwa maksud ibu yang dikumpul itu tinggal laporan kelompok saja, tidak ada lagi individu-individu kecuali ada tugas individu dari dosen pamong maka itulah yang dikumpul, namun karena ada teman yang ngotot bahwa harus buat  yang laporan individu lagi. ya udah kami buat lagi walaupun saya yang ketua tingkatnya harus mengalah. dan akhirnya memang tidak ada yang dikumpul dan hanya ujian lisan aja, kirain juga ujian lisan seperti wawancara namun ujiannya adalah ujian essai tentang menuliskan beberapa kali FS, persoalan dan solusi di tempat FS dan Inovasi FS selanjutnya. Ini mah bukan ujian buuuu.  tapi ngk papa, saya juga ngk masalah. UAS juga sudah selesai dan proposal juga sudah ACC, jadi semuanya sudah selesai untuk semester 3 ini. tinggal mengurus penelitian tesis  setelah selesai di wisuda, setelah itu..... hehe.....,

lanjut, kami kerjakanlah tu ujiannya. ibunya harus pergi karena menjadi pembicara pada PPG guru-guru dikampus pusat, jadi selasai kami kerjakan ujian itu kami kumpul aja dan dimasukan ke dalam map, karena masih ada  jadwal Ujian masih satu lagi yaitu mata kuliah proposal tesis yang diasuh oleh ibu dosen yang sama maka, tempat kumpul tugasnya dan berita acaranya kami ke pusat lagi, karena di bawah oleh ibunya. kami pun kepusat di ruang PPB tempat dilaksanakannya PPG, disana kami kumpul tugas kami, menandatangi berita acara ujian dan minta ACC proposal tesis kami, alhamdulillah semuanya beres. kami salaman dengan ibunya, berterimah kasih dan minta maaf bila ada yang salah, karena ini menjadi akhir pertemuan kami dalam mata kuliah ini. mungkin dalam pertemuan selanjutnya dalam bentuk, suasana, posisi yang lain. walaupun saya tetap menganggap ibu sebagai guru yang pernah mengajari saya.

setelah itu saya singgah terlebih dahulu di masjid UIN untuk shalat dhuhur, selesai shalat saya mengambil uang di ATM untuk pembayaran Spp, yang ternyata saya tidak bisa mengambil semuanya karena 'ternyata' ada batasan dalam penarikan uang di bank, jadinya saya kemudian menundanya besok (hari ini) untuk membayar Spp Semester 4. setelah dari ATM saya makan siang dahulu di warung makan yang lumayan bagus tempatnya tepat di kolong masjid UIN, tempat yang menarik dan cara memesan dan membeli makanannya juga yang berbeda, air minumnya kita ambil sendiri, namun isinya cuma setengah gelas jadi kita sendiri yang menambahnya dengan air sesuai dengan selera kita, juga bila ingin yang panas, hangat atau pake Es sudah disediakan tinggal kita yang mengambilnya, cara bayarnya juga unik bayar dulu baru makan. setelah makan kita bisa langsung pergi yang membuat saya agak canggung karena biasanya selesai makan saya menuju ke kasir untuk membayar.

selesai makan saya ke perpustakaan melewati Under Pass di samping masjid UIN, di perpustakaan lumayan sepi yang terlihat hanya beberapa mahasiswa yang tidak seperti biasanya.karena liburan. kecuali kami mahasiswa pasca beberapa masih berkeliaran, yang baru selesai UAS juga. saya disana membaca buku lalu kemudian meminjam empat buah buku atau lebih tepatnya Novel. Novel-novel tersebut hampir semuanya sudah pernah saya baca. mengapa kok saya pinjam lagi? saya masih suka baca aja, isinya bagus. kemudian saya ingin mempelajarinya juga dari segi cara penulisannya karena keempatnya punya kekhasannya tersendiri, ada yang di tulis sudah bertahun-tahun lalu (Novel Salah Asuhan), kemudian Laskar pelangi yang ditulis dengan gaya bercerita namun dengan gaya tulisan sastra, seperti berpuisi dan bersenandung (Novel ini ketika saya baca saat masih SMP dulu, saya mengerutkan jidad tidak paham dan tidak bisa mengikuti alurnya, namun sekarang Alhamdulillah saya bisa menikmatinya, disini juga menjadi catatan  bahwa semakin tinggi kualitas intelektual kita, maka kitapun bisa menikmati buku-buku bacaan itu). kemudian buku bumi cinta karya kang abik yang sudah saya baca juga dengan campuran gaya sastra dan religius. dan terakhir rantau 1 muara karya A.Fuadi buku ini juga sudah beberapa kali saya tamatkan, gaya bahasa yang khas adalah memberi motivasi.

semua saya pinjam untuk saya riset gaya kepenulisannya masing-masing (siapa tau nanti bisa seperti mereka? Amin) dan bisa menjadi tambahan motivasi dan pengetahuan saya juga. selesai dari perpus saya tidak langsung pulang saya menunggu sampai magrib karena berhubung juga udah mau maghrib, saya selengilah waktu dengan membaca bacaan favorit saya yang lain yaitu My Stupid Boss, yang selalu saja di setiap bab ceritanya membuat saya mati ketawa, saya berharap sih bukunya tidak sampai habis dan masih berjilid-jilid salanjutnya. karena betul-betul menghibur saya, selain itu banyak juga informasi kita bisa dapatkan didalamnya tentang pola hubungan karyawan dan bosnya, antara karyawan dan karyawan, bos dan bawahannya dan juga informasi mengenai cara menjalankan sebuah perusahaan. 

lanjut, dari perjalanan saya dari perpus ke masjid UIN, ada kejadian uni lagi (menurut saya). di lantai tiga fakultas adab saya berpapasan dengan seorang perempuan di melihat saya, saya juga melihatnya kemudian dia menunduk, sepertinya dia salting begitu merapikan penampilannya, dalam hati saya "ngapain salting sama saya" apa yang menarik dari orang yang masih banyak kekurangan ini. memang sih, saat itu saya berpenampilan rapi. dan terjadi kemudian didepan tempat masuk masjid UIN tempat penitipan alas kaki giliran saya yang salting, dengan sesosok perempuan yang lumayan cantik yang saya tahu dia pernah menjadi moderator di acara multikultural kemarin. dia berjalan dengan beberapa orang yang mungkin itu keluarganya lalu berpapasan dengan saya. dia melihat saya namun saya tidak berani menatapnya seperti perempuan yang berpapasan dengan saya tadi. wah, apakah ini yang namanya karma?. Wallahu a'alam bisssawab.





Selasa, 25 Desember 2018

Di Keluarin dari Grup Whatsapp

26 Desember 2018....

Ini sesi yang kedua, dari cacatan ini. Saya ingin bercerita menganai saya di keluarkan dari grup whatsapp, jadi kronologis adalah kemarin saya mendapatkan sebuah postingan di grup whatsapp saya di alumni tarjih. Mengenai larangan merayakan tahun baru. karena menurut postingan tersebut itu bagaikan kita ikut-ikutan dengan agama lain, karena itu adalah tradisi mereka. Tiup terompet, meletuskan petasan yang menghamburkan uang, bahkan di barengi dengan hura-hura. Kalau dikampung saya biasanya mereka semalaman menyalakan musik yang keras sambil mereka mabok-mabokan. sayapun tidak bisa tidur dibuatnya. 

Itulah yang terjadi di malam tahun baru itu, habis uang, poya-poya, bahkan tidak jarang terjadi maksiat-maksiat di dalamnya. Dan dari postingan tersebut saya agaknya setuju karena di dukung dengan data-data dalil dari Rasulullah Saw, tentang ikut-ikut dengan budaya orang lain. Kalau dalam Islam jelas kalau ingin merayakan sesuatu dilakukan dengan baik, tidak mengandung mudorat. Seperti ngaji bersama, tadarrusan dan lain-lain. Ngapaian harus hura-hura. 

Saya kemudian meneruskan postingan tersebut ke grup lain yang ada di whatsapp saya, saya teruskan ke grup yang selama ini memposting mengenai berita dan pesan-pesan Islami. Tidak ada masalah. Setelah itu sampai-lah saya punya niat untuk memposting ke grup whatsapp yaitu grup yang mengeluarkan saya itu. Sebelum saya teruskan, saya edit-edit dulu supaya lebih halus bahasanya. Takutnya nanti ada yang tersinggung apalagi ini grup yang tidak seperti grup yang sudah saya kirimi sebelumnya. Dengan bacaan 'bismilah' saya postinglah ke grup tersebut. Langsung saja ada yang komen, dan berkata "gerakan ngopi untuk menyelasaikan tugas akhir". 

Karena di akhir postingan tersebut memang ada ajakan semacam gerakan untuk tidak keluar pada malam tahun baru tersebut. Ketika selang beberapa lama postingan tersebut saya kirim. Tepatnya menjelang magrib kemarin, saya melihat ke grup tersebut,"kok, saya tidak bisa mengirim pesan lagi ya?". Wah, ternyata, saja dikeluarkan saudara-saudara dari grup tersebut!!.

Apa salah saya, apakah postingan tersebut berbahaya?, apakah postingan tersebut mangandung racun sianida?, apakah postingan tersebut akan merusak ekosistem warga grup?. Padahal setau saya warga grup dan admin grup adalah orang-orang yang punya pendidikan. Ya, taruhlah mereka sudah sarjana semua. Seharusnya di tanggapi dengan ilmu juga, bukan dengan mengeluarkan orang yang ingin menambah wawasan keilmuan. 

Atau jangan-jangan admin grup tersebut anti dengan diskusi-diskusi keislaman atau term-term tentang Islam semacam itu? Atau mereka sudah terserang penyakit Islamopobia, sepilis dan lain-lain --- disini saya tidak menyalahkan warga grup karena mereka tidak punya hak untuk mengeluarkan anggota grup. Hanya admin yang bisa.

Padahal grup tersebut adalah grup mahasiswa-mahasiswa yang berlabelkan Islam. Jadi apa yang sebenarnya mereka pelajari selama ini di kampus Islam itu. Atau bukan salah kampusnya tapi salah bacaan dan tempat kajian mereka. Ya prediksi saya, admin yang mengeluarkan saya kurang bacaan kali. Hehe. 

Sukanya mungkin dengan postingan-postingan Iklan-Iklan yang bisa menambah nilai ekonomis di banding postingan yang bisa menambah cakrawala berfikir. Tapi sudahlah saya masih punya grup yang lain, untuk sekedar mendapatkan informasi-informasi yang kira-kira bisa bermanfaat.

Karena kejadian saya dikeluarkan dari grup tersebut, sayapun jadi dongkol alias bete. Sehingga merambat ke frekuensi kehidupan yang lain. Semacam persoalan membuat laporan field study, yang ngk jelas gimana jalur perjalanannya. 

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...