Kamis, 15 November 2018

Ekspektasi Tinggi: Antara Anugerah dan Petaka


14 November...

Kumulai kembali tulisan harian ini. Untuk sekedar menuliskan apa yang terjadi dengan hari-hari saya. terutama hari ini. Bisa dibilang hari ini adalah hari yang berirama seperti lantunan lagu. Hari ini, hari yang memiliki banyak rasa untuk diungkapkan. Secara, saya adalah orang yang mudah menangis dengan hal-hal yang menyedihkan (melihat orang yang kesusahan, film, dan mengenang masalah lalu ‘pokoknya banyak’) - yang itu masuk kedalam batok kepala saya. Namun, juga saya kadang menjadi orang tidak berperasaan.

Kata orang sih, hidup memang mesti punya banyak rasa. Saya setuju, namun terkadang saya ingin menempatkannya sesuai dengan tempatnya – the man on right place or the soul on the right place. Rasa erat kaitannya dengan cinta. Membicarakan cinta adalah hal yang sangat sakral. Karena dialah bukan barang yang bisa dipermainkan begitu saja. Olehnya itu para bijak bestari yang mereka petik dalam Alquran (kitab suci umat Islam) mengungkapkan,”cinta yang tertinggi adalah ketika sudah sampai kepada mahabbah tullah (cinta kepada Allah).” 

Ok, itu sekedar intronya. Sekarang masuk ke dalam pembahasan. Seperti yang saya katakan bahwa hari ini adalah hari yang begitu berirama. Yang pertama, sebelum melaksanakan shalat subuh tadi, saya terlebih dahulu melaksanakan shalat tahajjud berjamaah dan disambung dengan makan sahur. Karena berhubung hari ini adalah hari kamis, yang di dalam Islam di sunnahkan untuk berpuasa pada hari senin dan kamis. Konon hari senin adalah hari lahirnya nabi dan hari kamis adalah hari diangkatnya amal.

Lanjut, seperti biasanya ketika saya tertekan dengan sebuah tugas kampus, maka saya menghindarkan diri dari pergaulan. Semacam bertahannus di Goa hira (tempat mengasingkan diri nabi Muhammad dan tempat Nabi menerima wahyu yang pertama). Itu di karenakan ingin fokus untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan benar adanya, hari ini adalah hari pertama saya menjalan tugas field study (studi lapangan). Yaitu semacam magang untuk menjadi dosen nantinya.

Kalau saya selidiki mengapa saya bisa seperti itu. Penyebabnya lebih kepada adanya sebuah ekspektasi dari dalam diri saya untuk salalu mempersembahkan hal yang terbaik dari setiap karya-karya saya. Yang terkadang malah berakhir dengan saya tidak jadi menjalankan tugas tersebut. Atau bila hal tersebut dalam bentuk karya, batang hidungnya tidak pernah nampak. Yang hanya sebatas sampai di awang-awang saja.

---

Seperti ketika saya masih nyantri dulu. Saya malah sering melarikan diri ketika mendapatkan tugas kultum (kuliah tujuh menit), kadang bersembunyi di kamar dan kadang masuk ke dalam WC. Atau seperti ketika saya dalam proses penyelesaian tugas akhir, yaitu menulis skripsi. Karena ingin memberikan hasil yang terbaik malah saya lambat membuat skripsi tersebut yang mengakibatkan saya juga lambat untuk di wisuda. Yang lucunya, skripsinya tetap jadi. namun akhrinya menggunakan rumus “yang penting jadi” yang sudah melenceng dari idealisme saya tadi. Itu juga karena dorongan agar bisa di wisuda. (bisa dibayangkan bila tidak ada wisuda, skripsinya tidak akan jadi-jadi kali ya?).

Terkadang idealisme saya ini bisa menjadi anugerah bagi saya. Dan bisa juga malah menjadi petaka bagi saya. Saya pun kepikiran  (gara-gara saya bahas disini). terhadap orang-orang yang bekerja di dunia kreatif seperti: musik, film, dll. Mereka ada yang bisa menciptakan sebuah karya yang sempat viral dan menarik, namun lama-kelamaan, mereka seakan hilang di telan bumi (bukan yang terjadi di petopo kemarin, ya). Tidak nampak lagi di TV-TV.

---

Kembali lagi kembahasan. Karena saya ingin menampilkan performa yang terbaik saat tugas nanti, akhirnya saya pun menjadi tertekan, dan tekanannya itu dimulai sejak masuk semester tiga. Dan tekanannya menjadi-menjadi ketika saya harus mengajarkan sebuah materi yang baru bagi saya (manajemen kinerja). Dan hebatnya lagi, saya harus menjadi pembicara full dalam kelas ini, karena sistem makalah dalam kelas ini dihilangkan. Akhirnya dari hari-hari ke saya harus berfikir untuk bisa menemukan solusi dari permasalahan ini. Bahkan bergaul, olahraga, dan menghadiri wisudaan orang. tidak sempat saya lakukan.

Namun mau tidak mau saya harus tetap bisa mempersiapkan diri untuk menjalankan tugas ini. Selain karena ini adalah salah satu tugas mata kuliah yang mendapat penilaian. Tugas ini juga bisa menjadi proses penilaian bagi saya, sudah sejauh mana kemampuan saya dalam mentransfer ilmu pengetahuan.

Akhirnya, dengan menggunakan kekuatan ”the power of kepepet”, power pointnya pun jadi. Yang baru selesai saya kerjakan pagi-pagi tadi sampai jam sepuluan. Padahal sebenarnya, dari jauh-jauh hari yang lalu, saya memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya. Namun karena rasa idelisme dalam diri saya tadi. Power pointnya tidak ditulis-tulis.

Setelah itu, dengan usaha dan doa. Sayapun melangkahkan diri ke tempat tugas saya tersebut dengan perasaan sedikit grogi. Kalau masalah grogi disini karena akan tampil didepan umum, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Namun groginya ini adalah takutnya nanti materi yang saya buat “salah dalam tulisan dan pemahaman”. disamping karena ini adalah materi yang betul-betul baru bagi saya. Yang hanya mengandalkan bacaan buku. bukan menerima langsung dari dosen yang ahli dalam materi ini.

Akhirnya saya pun tampillah. Perkiraan awalnya dosen pamong saya ini, tidak akan berdiam diri dalam kelas. Namun kenyataannya beliaupun jadi peserta juga. Ampunlah saya. Tapi mau bagaimana, sayapun harus tetap tampil. dengan berbekal doa dan materi yang saya buat tadi. Salah juga tidak apa-apalah. Mau gimana lagi. Saya sampaikanlah materi tersebut satu persatu di mulai dengan salam pembuka dan diakhri dengan salam penutup. Ternyata hasilnya tidak begitu mengecewakan.

Dan alhamdulillah ternyata perasaan menjadi legah dan bisa tenang lebih tenang sedikti. (kalau mau diungkap disini, perasaan ini susah saya ungkapkan kata-kata. Perasaan ini muncul ketika saya selasai menyelesaikan tugas-tugas saya. dan perasaan ini sudah cukup menjadi imbalan dari tugas-tugas tersebut.

---

Masalah satu selesai. Bila saya flashback kembali. Seandainya, saya tidak tampil hari ini gimana jadinya. Hari-hari saya sepekan kedepan. Saya akan dihantui terus-menerus untuk menjalankan tugas tersebut. Karena hal tersebut (tidak jadi ke kampus) bisa saja terjadi sebenarnya tadi, yaitu diakibatkan oleh beberapa faktor: pertama, perasaan takut salah. Kedua, hari ini air di WC tidak mengalir, sehingga saya harus mandi dengan air yang sedikit keruh tadi. Lalu, yang ketiga adalah saya tiba-tiba panas dan flu, untung saya punya obat P3K “pertolongan pertama pada kecelakaan, ‘Bodrex’.”

OK!. Sudah dulu bro. Sebenarnya masih banyak yang perlu dibahas. Namun sepertinya, punggung saya sudah pengal mau istirahat. kita Lanjut pada kesempatan yang lain... salam.


  

  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...