Jumat, 30 November 2018

FIELD STUDY DENGAN LIKA-LIKUNYA



29 November...

Baik, saya akan melanjutkan catatan harian saya, kali ini saya ingin menceritakan proses perjalan hidup saya pada tanggal 29 November hari kamis kemarin --- karena saya menulis tulisan ini pada tanggal 30 November hari Jumat. Tentu hari kamis kemarin adalah yang berkesan bagi saya. Mengapa demikian? Karena saya menganggap bahwa hari kamis kemarin adalah hari terakhir saya bertugas sebagai mahasiswa magang (jadi dosen) di UIN Sunan Kalijaga (SUKA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Manajemen Dakwah.

Berkesan karena, salah satu yang mengganggu pikiran saya sejak saat menjadi mahasiswa magister (s2), adalah field study (magang) ini --- yang sudah disampaikan oleh ketua prodi sejak sosialisasi atau pengenalan kampus, saat pertama kali menjadi mahasiswa Magister UIN SUKA bahwa nanti akan ada semacam magang latihan menjadi dosen bagi mahasiswa S2. 

Ada beberapa alasan sehingga kemarin menjadi berkesan bagi saya: Pertama, pada saat s1 kemarin jurusan saya adalah campuran dari jurusan agama (Tarjih atau Syariah) dan pendidikan agama Islam (PAI), lalu saya mengambil s2 pada jurusan magister PAI konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) walaupun masih linear dari s1 saya, namun fokus kuliah saya adalah mengenai MPI alias membahas mengenai manajemen pendidikan.

Sehingga secara otomatis ketika magang nanti, yang saya akan ajarkan adalah mengenai MPI itu. Sehingga disanalah letak permasalahannya, bahwa saya akan mengajari mahasiswa manajemen dengan materi-materi manajemen yang baru saya dalami di level magister, dengan intensitas penguasaan materi yang tentu berbeda dengan teman-teman saya yang memang sejak s1 berada di jurusan MPI.

Kedua, jiwa saya adalah orang yang senang bergaul sebenarnya, senang menambah pertemanan sehingga tentunya saya juga memiliki beberapa teman yang mengenal saya. Olehnya itu sifat saya (senang bergaul) tersebut sepertinya akan terkekang karena sebuah kondisi saya saat ini, yang bahkan untuk menceritakan kepada orang saya kenal, saya merasa berat, mengenai dimana saya tinggal saat ini?. Sehingga itu pula yang membatasi sifat mudah bergaul saya tersebut. Ditambah dengan kondisi bagaimana saya berangkat kuliah harus mengandalkan transfortasi umum (baca : TU) --- kalau saya ungkapkan ketika lagi dikamar sepertinya saya menganggapnya tidak ada masalah, naik tranformasi umum sebenarnya menyenangkan.  Kita tinggal duduk tanpa capek berkendara dan bisa melihat masyarakat yang begitu beragam di atas TU.

Namun kenyataannya ketika saya sehari-hari mengandalkan TU jiwa saya berontak yang itu tidak bisa saya lawan, yang kadang saya bertanya kepada diri saya, kenapa saya harus seperti ini. Ingin berangkat harus pindah-pindah jalur kemudian menunggu TU baru bisa berangkat , itupun kadang harus berdiri bila tidak mendapatkan tempat duduk, kadang pas capek berat terpaksa saya tidur sambil berdiri, atau pas lagi ada urusan penting tidak bisa kita langsung untuk berangkat. 

Secara kemudian saya sebenarnya memiliki kendaraan (motor), namun apa dinyana kendaraa itu tidak bisa saya hadirkan karena sebuah aturan yang aneh. Bisa dibayangkan sebagai mahasiswa s2, sudah dewasa, masih juga dijajah dengan sebuah aturan tidak boleh membawah kendaraan. Dan kenyataannya ada juga tuh, yang dibolehin bawah motor. Bahkan ada juga yang diam-diam (baca- Sembunyi-sembunyi) bawah motor dan mereka (pembuat aturan ini) tahu bahwa mereka bawah motor tapi tidak diapa-apain hanya dilihat-lihat aja. Kenapa kemudian saya tidak bawah aja motor itu, nyata banyak yang melanggar? Ya, karena secara prinsip kan, sebuah aturan harus diikuti katanya saya orang yang sudah belajar sampai perguruan tinggi, belajar agama lagi, kenapa saya harus ikutan-ikutan melanggar? Di mana letak suri tauladannya?... yang saya pertanyakan disini adalah mengapa saya juga harus kena aturan itu (sudah dewasa)? Apakah saat ini saya lagi di uji oleh Allah? Apakah ini kesalahan orang tua saya yang memasukkan saya ketempat seperti ini?.

Kemudian kembali kepada permasalahan tadi bahwa bagaimana bila mahasiswa magang saya bertanya dimana saya tinggal? Naik apa kesini?, pertanyaan itu yang paling saya hindari, yang kemudian menjadikan saya tidak memiliki keberanian untuk sekedar memulai perbincangan dengan orang yang baru saya kenal.

Berdasarkan kedua alasan tersebut, yang hari-hari saya dihantui ketika akan magang nanti, apa yang akan saya lakukan. Namun akhirnya kemudian magangnya selesai dan saya anggap magang berjalan dengan baik dan berkesan bagi saya, karena saya mendapatkan pengalaman baru mengajar mahasiswa s1 manajemen dakwah dan juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai ilmu manajemen, yang saya betul-betul saya dalami sebelum saya masuk kelas.

Dimana banyak kejadian-kejadian juga yang menyertainya, seperti:  saat saya harus berfikir keras apa yang akan saya bawakan kedalam kelas, saya harus bertanya kepada dosen pamong terlebih dahulu mengenai apa yang akan saya lakukan dan sampaikan saat tampil nanti, juga ketika harusnya saya mengajar di prodi MPI lalu berpindah ke prodi MD (Manajemen Dakwah), kemudian setiap beberapa menit sebelum masuk kelas, saya kadang mengunggu jam pelajaran tiba, saya mengasingkan diri dulu di dalam WC, karena di WC-lah sekalian saya mengeluarkan kotoran disitu juga kadang saya belajar,  Juga kejadian dimana saya tidak mengikuti wisudahan dan shalat lail berjamaah karena kepikiran materi yang akan saya bawakan belum saya buat satupun dalam bentuk PPT dan juga, buku-buku manajemen kinerja  yang pinjam di perpustakaan UIN, yang memenuhi tas saya, selalu terlambat saya kembalikan.

Itulah sekelumit cerita  saya saat melakukan field study sebagai salah satu mata kuliah di magister MPI UIN Suka dengan berbagai liku-likunya, yang berakhir dengan haru bercampur bahagia. Haru karena ternyata kelas yang saya hadapi yang awalnya kelihatannya adalah kelas yang ‘spesial’ dan juga kelas yang termasuk senior (S. 5 dan 7), ternyata mereka lumayan antusias dengan materi yang saya sampaikan.....

Field study selesai... tantangan selanjutnya adalah penelitian tesis......


Kamis, 15 November 2018

Ekspektasi Tinggi: Antara Anugerah dan Petaka


14 November...

Kumulai kembali tulisan harian ini. Untuk sekedar menuliskan apa yang terjadi dengan hari-hari saya. terutama hari ini. Bisa dibilang hari ini adalah hari yang berirama seperti lantunan lagu. Hari ini, hari yang memiliki banyak rasa untuk diungkapkan. Secara, saya adalah orang yang mudah menangis dengan hal-hal yang menyedihkan (melihat orang yang kesusahan, film, dan mengenang masalah lalu ‘pokoknya banyak’) - yang itu masuk kedalam batok kepala saya. Namun, juga saya kadang menjadi orang tidak berperasaan.

Kata orang sih, hidup memang mesti punya banyak rasa. Saya setuju, namun terkadang saya ingin menempatkannya sesuai dengan tempatnya – the man on right place or the soul on the right place. Rasa erat kaitannya dengan cinta. Membicarakan cinta adalah hal yang sangat sakral. Karena dialah bukan barang yang bisa dipermainkan begitu saja. Olehnya itu para bijak bestari yang mereka petik dalam Alquran (kitab suci umat Islam) mengungkapkan,”cinta yang tertinggi adalah ketika sudah sampai kepada mahabbah tullah (cinta kepada Allah).” 

Ok, itu sekedar intronya. Sekarang masuk ke dalam pembahasan. Seperti yang saya katakan bahwa hari ini adalah hari yang begitu berirama. Yang pertama, sebelum melaksanakan shalat subuh tadi, saya terlebih dahulu melaksanakan shalat tahajjud berjamaah dan disambung dengan makan sahur. Karena berhubung hari ini adalah hari kamis, yang di dalam Islam di sunnahkan untuk berpuasa pada hari senin dan kamis. Konon hari senin adalah hari lahirnya nabi dan hari kamis adalah hari diangkatnya amal.

Lanjut, seperti biasanya ketika saya tertekan dengan sebuah tugas kampus, maka saya menghindarkan diri dari pergaulan. Semacam bertahannus di Goa hira (tempat mengasingkan diri nabi Muhammad dan tempat Nabi menerima wahyu yang pertama). Itu di karenakan ingin fokus untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dan benar adanya, hari ini adalah hari pertama saya menjalan tugas field study (studi lapangan). Yaitu semacam magang untuk menjadi dosen nantinya.

Kalau saya selidiki mengapa saya bisa seperti itu. Penyebabnya lebih kepada adanya sebuah ekspektasi dari dalam diri saya untuk salalu mempersembahkan hal yang terbaik dari setiap karya-karya saya. Yang terkadang malah berakhir dengan saya tidak jadi menjalankan tugas tersebut. Atau bila hal tersebut dalam bentuk karya, batang hidungnya tidak pernah nampak. Yang hanya sebatas sampai di awang-awang saja.

---

Seperti ketika saya masih nyantri dulu. Saya malah sering melarikan diri ketika mendapatkan tugas kultum (kuliah tujuh menit), kadang bersembunyi di kamar dan kadang masuk ke dalam WC. Atau seperti ketika saya dalam proses penyelesaian tugas akhir, yaitu menulis skripsi. Karena ingin memberikan hasil yang terbaik malah saya lambat membuat skripsi tersebut yang mengakibatkan saya juga lambat untuk di wisuda. Yang lucunya, skripsinya tetap jadi. namun akhrinya menggunakan rumus “yang penting jadi” yang sudah melenceng dari idealisme saya tadi. Itu juga karena dorongan agar bisa di wisuda. (bisa dibayangkan bila tidak ada wisuda, skripsinya tidak akan jadi-jadi kali ya?).

Terkadang idealisme saya ini bisa menjadi anugerah bagi saya. Dan bisa juga malah menjadi petaka bagi saya. Saya pun kepikiran  (gara-gara saya bahas disini). terhadap orang-orang yang bekerja di dunia kreatif seperti: musik, film, dll. Mereka ada yang bisa menciptakan sebuah karya yang sempat viral dan menarik, namun lama-kelamaan, mereka seakan hilang di telan bumi (bukan yang terjadi di petopo kemarin, ya). Tidak nampak lagi di TV-TV.

---

Kembali lagi kembahasan. Karena saya ingin menampilkan performa yang terbaik saat tugas nanti, akhirnya saya pun menjadi tertekan, dan tekanannya itu dimulai sejak masuk semester tiga. Dan tekanannya menjadi-menjadi ketika saya harus mengajarkan sebuah materi yang baru bagi saya (manajemen kinerja). Dan hebatnya lagi, saya harus menjadi pembicara full dalam kelas ini, karena sistem makalah dalam kelas ini dihilangkan. Akhirnya dari hari-hari ke saya harus berfikir untuk bisa menemukan solusi dari permasalahan ini. Bahkan bergaul, olahraga, dan menghadiri wisudaan orang. tidak sempat saya lakukan.

Namun mau tidak mau saya harus tetap bisa mempersiapkan diri untuk menjalankan tugas ini. Selain karena ini adalah salah satu tugas mata kuliah yang mendapat penilaian. Tugas ini juga bisa menjadi proses penilaian bagi saya, sudah sejauh mana kemampuan saya dalam mentransfer ilmu pengetahuan.

Akhirnya, dengan menggunakan kekuatan ”the power of kepepet”, power pointnya pun jadi. Yang baru selesai saya kerjakan pagi-pagi tadi sampai jam sepuluan. Padahal sebenarnya, dari jauh-jauh hari yang lalu, saya memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya. Namun karena rasa idelisme dalam diri saya tadi. Power pointnya tidak ditulis-tulis.

Setelah itu, dengan usaha dan doa. Sayapun melangkahkan diri ke tempat tugas saya tersebut dengan perasaan sedikit grogi. Kalau masalah grogi disini karena akan tampil didepan umum, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Namun groginya ini adalah takutnya nanti materi yang saya buat “salah dalam tulisan dan pemahaman”. disamping karena ini adalah materi yang betul-betul baru bagi saya. Yang hanya mengandalkan bacaan buku. bukan menerima langsung dari dosen yang ahli dalam materi ini.

Akhirnya saya pun tampillah. Perkiraan awalnya dosen pamong saya ini, tidak akan berdiam diri dalam kelas. Namun kenyataannya beliaupun jadi peserta juga. Ampunlah saya. Tapi mau bagaimana, sayapun harus tetap tampil. dengan berbekal doa dan materi yang saya buat tadi. Salah juga tidak apa-apalah. Mau gimana lagi. Saya sampaikanlah materi tersebut satu persatu di mulai dengan salam pembuka dan diakhri dengan salam penutup. Ternyata hasilnya tidak begitu mengecewakan.

Dan alhamdulillah ternyata perasaan menjadi legah dan bisa tenang lebih tenang sedikti. (kalau mau diungkap disini, perasaan ini susah saya ungkapkan kata-kata. Perasaan ini muncul ketika saya selasai menyelesaikan tugas-tugas saya. dan perasaan ini sudah cukup menjadi imbalan dari tugas-tugas tersebut.

---

Masalah satu selesai. Bila saya flashback kembali. Seandainya, saya tidak tampil hari ini gimana jadinya. Hari-hari saya sepekan kedepan. Saya akan dihantui terus-menerus untuk menjalankan tugas tersebut. Karena hal tersebut (tidak jadi ke kampus) bisa saja terjadi sebenarnya tadi, yaitu diakibatkan oleh beberapa faktor: pertama, perasaan takut salah. Kedua, hari ini air di WC tidak mengalir, sehingga saya harus mandi dengan air yang sedikit keruh tadi. Lalu, yang ketiga adalah saya tiba-tiba panas dan flu, untung saya punya obat P3K “pertolongan pertama pada kecelakaan, ‘Bodrex’.”

OK!. Sudah dulu bro. Sebenarnya masih banyak yang perlu dibahas. Namun sepertinya, punggung saya sudah pengal mau istirahat. kita Lanjut pada kesempatan yang lain... salam.


  

  
  

Kamis, 01 November 2018

Acara Besar UIN


Kamis, 1 November ...

Malam hari (malam kamis) saya susah tidur. Karena kepikiran, besok saya akan melakukan observasi ‘pengenalan lapangan’ di prodi Manajemen Dakwah (Fakultas Dakwah, UIN Suka).  Observasi ini adalah salah satu bagian dari mata kuliah field study (kompetensi lapangan) semester 3 program magister – ya!, semacam magang, untuk melatih kita menjadi dosen.

Sebenarnya, bagi saya, mengajar sudah sering saya lakukan. Apalagi tampil di depan umum. Namun, yang menjadi persoalan adalah saya akan mengajarkan sebuah mata kuliah yang betul-betul baru bagi saya. Waktu itu di beri mata kuliah Manajemen Kinerja oleh dosen pamongnya (yang punya kelas di prodi manajemen dakwah, sakaligus menjadi pembimbing kita).  Di situlah saya kepikiran terus. Apa yang harus saya lakukan. Sehingga membuat saya susah tidur pada waktu itu.

Mata kuliah field study oleh dosennya (Ibu Na’imah), di bagi menjadi dua bagian: Praktek di Kelas “Peer Teaching”  dan Pratek di Lapangan “Field Study” . Untuk Praktek di Kelas sudah selasai. Waktu itu materi saya tentang Manajemen Sekolah/Madrasah. Mata kuliah ini juga memiliki bobot 2 SKS artinya  sekitar 14 pertemuan dan praktek lapangannya minimal 3 tatap muka di kelas.

Akhirnya, paginya saya bangun, shalat subuh seperti biasa, ngaji, kemudian kembali ke kamar untuk... Tidur. ‘Oo ia, malam kamis biasanya kami bangun untuk shalat tahajjud, sekitar 1 jam sebelum shalat subuh, lalu kita sahur. Sehingga besoknya, dari pagi sampai magrib kita tidak bisa makan kedapur’. Itulah sebabnya saya tidur pagi, makan pagi kedapur tidak ada, dan observasinya juga nanti jam 1 siang.

Tidur... bangun... tidur... bangun... itu aja kerjaan saya pagi itu, sambil sesekalil lihat jam di handphone (baca: hape), ‘udah jam berapa ya?’, kata saya dalam hati. Maklum !!! orang lagi deg-degan, kan mau observasi. Waktu itu saya sudah buat plan ‘rencana’. Jam 10 saya sudah harus pergi mandi, berpakaian, berdandan rapi, dan berangkat. Sehingga pas sampai kampus, saya masih ada kesempatan untuk ke perpustakaan, cari-cari referensi mengenai Manajemen Kinerja yang saya akan ajarkan nanti.

Namun, belum sampai jam 10!!!, ada pesan WA ‘Watssup’ masuk di grup. 'Grup WA yang kami buat untuk memudahkan komunikasi antara dosen pamong dan mahasiswa magang ini. Isinya 4 orang: saya, dua teman saya, dan dosen pamongnya sendiri.’

’berhubung hari ini ada kegiatan besar UIN, jadi semua perkuliahan di arahkan ke acara tersebut. Terima Kasih.’ Kata bapaknya

‘Waduh!, berarti ngak jadi ni observasinya, saya udah deg-degan juga.’ Ungkap saya dalam hati.

Ya, mau gimana lagi. Namun saya tetap putuskan untuk tetap ke kampus. Kan, Benefitnya juga banyak: saya bisa mencari udara segar (karena bisa dipastiin seharian itu saya akan tidur dan bisa membuat  kepala saya sakit. Disamping tidur seharian juga, tidak sehat bagi tubuh saya), kemudian saya juga bisa ke perpustakaan untuk mencari buku-buku referensi untuk Mata Kuliah Manajemen Kinerja itu.  dan tak kalah penting uang ‘Cash’ juga masih ada, untuk akomodasi di perjalanan.

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...