26 Desember 2018....
Ini sesi yang kedua, dari cacatan ini. Saya ingin bercerita menganai saya di keluarkan dari grup whatsapp, jadi kronologis adalah kemarin saya mendapatkan sebuah postingan di grup whatsapp saya di alumni tarjih. Mengenai larangan merayakan tahun baru. karena menurut postingan tersebut itu bagaikan kita ikut-ikutan dengan agama lain, karena itu adalah tradisi mereka. Tiup terompet, meletuskan petasan yang menghamburkan uang, bahkan di barengi dengan hura-hura. Kalau dikampung saya biasanya mereka semalaman menyalakan musik yang keras sambil mereka mabok-mabokan. sayapun tidak bisa tidur dibuatnya.
Itulah yang terjadi di malam tahun baru itu, habis uang, poya-poya, bahkan tidak jarang terjadi maksiat-maksiat di dalamnya. Dan dari postingan tersebut saya agaknya setuju karena di dukung dengan data-data dalil dari Rasulullah Saw, tentang ikut-ikut dengan budaya orang lain. Kalau dalam Islam jelas kalau ingin merayakan sesuatu dilakukan dengan baik, tidak mengandung mudorat. Seperti ngaji bersama, tadarrusan dan lain-lain. Ngapaian harus hura-hura.
Saya kemudian meneruskan postingan tersebut ke grup lain yang ada di whatsapp saya, saya teruskan ke grup yang selama ini memposting mengenai berita dan pesan-pesan Islami. Tidak ada masalah. Setelah itu sampai-lah saya punya niat untuk memposting ke grup whatsapp yaitu grup yang mengeluarkan saya itu. Sebelum saya teruskan, saya edit-edit dulu supaya lebih halus bahasanya. Takutnya nanti ada yang tersinggung apalagi ini grup yang tidak seperti grup yang sudah saya kirimi sebelumnya. Dengan bacaan 'bismilah' saya postinglah ke grup tersebut. Langsung saja ada yang komen, dan berkata "gerakan ngopi untuk menyelasaikan tugas akhir".
Karena di akhir postingan tersebut memang ada ajakan semacam gerakan untuk tidak keluar pada malam tahun baru tersebut. Ketika selang beberapa lama postingan tersebut saya kirim. Tepatnya menjelang magrib kemarin, saya melihat ke grup tersebut,"kok, saya tidak bisa mengirim pesan lagi ya?". Wah, ternyata, saja dikeluarkan saudara-saudara dari grup tersebut!!.
Apa salah saya, apakah postingan tersebut berbahaya?, apakah postingan tersebut mangandung racun sianida?, apakah postingan tersebut akan merusak ekosistem warga grup?. Padahal setau saya warga grup dan admin grup adalah orang-orang yang punya pendidikan. Ya, taruhlah mereka sudah sarjana semua. Seharusnya di tanggapi dengan ilmu juga, bukan dengan mengeluarkan orang yang ingin menambah wawasan keilmuan.
Atau jangan-jangan admin grup tersebut anti dengan diskusi-diskusi keislaman atau term-term tentang Islam semacam itu? Atau mereka sudah terserang penyakit Islamopobia, sepilis dan lain-lain --- disini saya tidak menyalahkan warga grup karena mereka tidak punya hak untuk mengeluarkan anggota grup. Hanya admin yang bisa.
Padahal grup tersebut adalah grup mahasiswa-mahasiswa yang berlabelkan Islam. Jadi apa yang sebenarnya mereka pelajari selama ini di kampus Islam itu. Atau bukan salah kampusnya tapi salah bacaan dan tempat kajian mereka. Ya prediksi saya, admin yang mengeluarkan saya kurang bacaan kali. Hehe.
Sukanya mungkin dengan postingan-postingan Iklan-Iklan yang bisa menambah nilai ekonomis di banding postingan yang bisa menambah cakrawala berfikir. Tapi sudahlah saya masih punya grup yang lain, untuk sekedar mendapatkan informasi-informasi yang kira-kira bisa bermanfaat.
Karena kejadian saya dikeluarkan dari grup tersebut, sayapun jadi dongkol alias bete. Sehingga merambat ke frekuensi kehidupan yang lain. Semacam persoalan membuat laporan field study, yang ngk jelas gimana jalur perjalanannya.