Selasa, 25 Desember 2018

Di Keluarin dari Grup Whatsapp

26 Desember 2018....

Ini sesi yang kedua, dari cacatan ini. Saya ingin bercerita menganai saya di keluarkan dari grup whatsapp, jadi kronologis adalah kemarin saya mendapatkan sebuah postingan di grup whatsapp saya di alumni tarjih. Mengenai larangan merayakan tahun baru. karena menurut postingan tersebut itu bagaikan kita ikut-ikutan dengan agama lain, karena itu adalah tradisi mereka. Tiup terompet, meletuskan petasan yang menghamburkan uang, bahkan di barengi dengan hura-hura. Kalau dikampung saya biasanya mereka semalaman menyalakan musik yang keras sambil mereka mabok-mabokan. sayapun tidak bisa tidur dibuatnya. 

Itulah yang terjadi di malam tahun baru itu, habis uang, poya-poya, bahkan tidak jarang terjadi maksiat-maksiat di dalamnya. Dan dari postingan tersebut saya agaknya setuju karena di dukung dengan data-data dalil dari Rasulullah Saw, tentang ikut-ikut dengan budaya orang lain. Kalau dalam Islam jelas kalau ingin merayakan sesuatu dilakukan dengan baik, tidak mengandung mudorat. Seperti ngaji bersama, tadarrusan dan lain-lain. Ngapaian harus hura-hura. 

Saya kemudian meneruskan postingan tersebut ke grup lain yang ada di whatsapp saya, saya teruskan ke grup yang selama ini memposting mengenai berita dan pesan-pesan Islami. Tidak ada masalah. Setelah itu sampai-lah saya punya niat untuk memposting ke grup whatsapp yaitu grup yang mengeluarkan saya itu. Sebelum saya teruskan, saya edit-edit dulu supaya lebih halus bahasanya. Takutnya nanti ada yang tersinggung apalagi ini grup yang tidak seperti grup yang sudah saya kirimi sebelumnya. Dengan bacaan 'bismilah' saya postinglah ke grup tersebut. Langsung saja ada yang komen, dan berkata "gerakan ngopi untuk menyelasaikan tugas akhir". 

Karena di akhir postingan tersebut memang ada ajakan semacam gerakan untuk tidak keluar pada malam tahun baru tersebut. Ketika selang beberapa lama postingan tersebut saya kirim. Tepatnya menjelang magrib kemarin, saya melihat ke grup tersebut,"kok, saya tidak bisa mengirim pesan lagi ya?". Wah, ternyata, saja dikeluarkan saudara-saudara dari grup tersebut!!.

Apa salah saya, apakah postingan tersebut berbahaya?, apakah postingan tersebut mangandung racun sianida?, apakah postingan tersebut akan merusak ekosistem warga grup?. Padahal setau saya warga grup dan admin grup adalah orang-orang yang punya pendidikan. Ya, taruhlah mereka sudah sarjana semua. Seharusnya di tanggapi dengan ilmu juga, bukan dengan mengeluarkan orang yang ingin menambah wawasan keilmuan. 

Atau jangan-jangan admin grup tersebut anti dengan diskusi-diskusi keislaman atau term-term tentang Islam semacam itu? Atau mereka sudah terserang penyakit Islamopobia, sepilis dan lain-lain --- disini saya tidak menyalahkan warga grup karena mereka tidak punya hak untuk mengeluarkan anggota grup. Hanya admin yang bisa.

Padahal grup tersebut adalah grup mahasiswa-mahasiswa yang berlabelkan Islam. Jadi apa yang sebenarnya mereka pelajari selama ini di kampus Islam itu. Atau bukan salah kampusnya tapi salah bacaan dan tempat kajian mereka. Ya prediksi saya, admin yang mengeluarkan saya kurang bacaan kali. Hehe. 

Sukanya mungkin dengan postingan-postingan Iklan-Iklan yang bisa menambah nilai ekonomis di banding postingan yang bisa menambah cakrawala berfikir. Tapi sudahlah saya masih punya grup yang lain, untuk sekedar mendapatkan informasi-informasi yang kira-kira bisa bermanfaat.

Karena kejadian saya dikeluarkan dari grup tersebut, sayapun jadi dongkol alias bete. Sehingga merambat ke frekuensi kehidupan yang lain. Semacam persoalan membuat laporan field study, yang ngk jelas gimana jalur perjalanannya. 

Tangisan Anak Kucing

26 Desember 2018....

Seperti biasa saya bangun sekitar jam 3 atau setengah 4 subuh --- ketika mendengar adzan dari masjid. Saya bangun lalu berpakain shalat dan mengambil sikat gigi. Ketika perjalanan menuju masjid, di depan dapur saya mendengar ada tangisan kucing. Saya dengar dengan seksama, ternyata benar itu adalah tangisan anaknya kucing. 

Saya bergegas ke sumber suara tersebut, sayapun mendapati anak kucing yang lagi menangis di tinggal mamanya dan bapaknya. umur kucing itu sekitaran baru beberapa hari. Ketika melihat anak kucing itu, awalnya saya hanya berlalu saja. Namun pas beberapa langkah meninggalkan anak kucing yang lagi menangis itu. karena kasihan. sayapun balik untuk mengambil anak kucing itu, untuk di tempatkan di tempat yang lebih terhormat. Ketika saya memegang anak kucing itu, tiba-tiba ada suara dari belakang saya, dan berkata "kasihan". "Iya kasihan". Jawab saya. Ohh, ternyata, itu subi yang ingin ke masjid juga.

Sayapun mengambil anak kucing itu untuk ditempatkan di tempat yang agak terang --- karena dia terdampar di tempat yang agak gelap. takutnya, ada anak yang tidak bertanggung jawab. Masih mengantuk kah. Lalu menginjak anak kucing tersebut. Dan juga bila ditempat di tempat yang agak terang siapa tahu ada yang iba dan kasihan melihat anak kucing tersebut kemudian di adopsi. Atau bila ditempat di tempat yang lebih terang mamanya yang meninggalkan dia yang entah kemana, bisa datang untuk menjemputnya. 

Setelah selasai menempatkan anak kucing di tempat yang terang, saya kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk buang hajat dan sikat gigi, ketika saya sibuk mencari gayung yang entah kenapa populasinya semakin berkurang.

Tiba-tiba ada yang menatap saya dengan tajam dari pojokan dapur, saya melihat dengan seksama. Wah, ternyata itu adalah kucing dewasa, dalam hati saya mengatakan,"jangan-jangan itu mamanya kucing yang tadi, tapi tatapannya segitu amat. Atau itu mungkin tatapan yang mengandung arti 'terima kasih mas, sudah peduli dengan anak saya' - tapi wajar sih kucing-kucing disini memang liar - tidak seperti kucing di rumah saya yang jinak".

Saya lanjut mengatakan dalam hati kepada kucing dewasa itu,"wahai kucing dewasa, apakah engkau mamanya kucing yang sudah saya tempatkan di tempat yang terang tadi? Kalau ia, cepatlah engkau menuju kepada anak-mu yang lagi menangis itu, dia ingin minum susu."

Setelah kembali dari masjid saya sudah tidak mendapati anak kucing yang lagi menangis tadi. Apakah sudah di jemput oleh mamanya?, atau ada manusia yang mengadopsinya?, atau ada manusia yang tega membuangnya? --- mudahan-mudahan tidak ada yang membuangnya. Kan kasian.

Jumat, 14 Desember 2018

Tantangan dari Pak Chairul Tanjung


14 Desember.....

Baik, sekarang saya akan melanjutkan untuk menulis catatan harian ini. Namun saya bingung mau membahas apa dan memulai dari mana. Oke, saya akan mulai saja, membahas mengenai pengalaman saya mengikuti seminar beberapa pekan yang lalu di UGM, yang mana pembicaranya adalah salah satu orang terkaya di Indonesia, mungkin tidak hanya Indonesia namun juga dunia. Beliau adalah bapak Chairul Tanjung.

Saya lumayan mengenal pak CT dari biografinya. Karena sejak saya S1 kemarin, salah satu buku favorit saya adalah buku pak CT yang berjudul ‘Anak Singkong’. Buku tersebut sangat saya senangi, karena bisa menjadi motivasi saya bila saya lagi kurang bersemangat. Dalam buku tersebut dikisahkan mengenai bagaimana perjalanan hidup seorang CT yang luar biasa.

Yang mana seorang CT yang sejak kecil sudah akrab dengan perjuangan dalam mencapai kesuksesan-kesuksesannya. Ketika itu CT hanyalah orang yang berasal dari keluarga menengah kebawah namun dengan perjuangannya dalam belajar dan mencari uang lalu kemudian bisa kuliah di Universitas Indonesia.

Perjuangannya tidak sampai disitu, karena ketika awal-awal kuliah di kedokteran gigi UI. Ternyata biaya kuliah CT adalah hasil dari penjualan sarung ibunya. Ketika  CT mengetahui hal tersebut,  CT kemudian sedih, lalu CT berjanji tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya untuk membiayai kuliahnya. Sehingga pada saat itu CT kuliah dengan mengandalkan uang kerja kerasnya sendiri. Dengan berdagang kecil-kecilan; membuka usaha fotocopy dan bisnis alat praktek kedokteran gigi yang di jual kepada teman-temannya. Sehingga kemudian CT pernah menjadi mahasiswa teladan se-Indonesia pada waktu itu.

Setelah lulus dari UI, CT kemudian tidak menjadi seorang dokter gigi, namun malah menjadi seorang pengusaha sukses, yang usahanya bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini. Perusahan tersebut berada dibawah naungan CT Grup (yang mana CT sendiri sebagai presidennya), seperti: transmall yang ada di kota-kota besar di Indonesia, carrefour, trans studio (semacam perpaduan Mall dan tempat wisata), kemudian televisi seperti Trans TV, Trans 7, media online detik.com, perbank-kan yaitu bank mega, dan juga memiliki beberapa saham di Garuda Indonesia. Sehingga kemudian CT dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

CT juga pernah menjabat sebagai menteri Ekonomi pada zaman presiden SBY, ketua KEN (komite ekonomi nasional) dan salah satu penasehat MUI pusat. Sehingga CT tidak hanya dikenal sebagai Nasionalis namun juga religius.

---

Lalu apa kemudian yang ingin saya sampaikan disini? bahwa untuk menjadi orang sukses kita tidak bisa melihat mereka sekarang dengan kesuksesan-kesuksesannya. Namun bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari proses orang mereka menjadi sukses. Yang tentunya tidaklah mudah dan penuh tantangan. Namun semua itu bisa dilalui bila kita punya motivasi serta keinginan yang besar. Dan niat yang benar.

---

Kita kembali membahas mengenai seminar di UGM tersebut, yang kemudian ada beberapa hal yang bisa saya share dari presentasi pak CT ketika menyampaikan meterinya tentang ‘kepemimpinan inovasi di era distrubsi’ di UGM Pada tanggal 30 November kemarin. Ketika itu pemaparan pak CT mengenai era distrubsi dan kepemimpinan inovasi sungguh sangat menarik, karena dilengkapi dengan data-data yang jelas dan didukung dengan slide-slide yang bagus.

Pak CT memaparan mengenai kondisi kita saat ini, utamanya kondisi mellenial sekarang dalam menghadapi era distrubsi, yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Menurut beliau, “ zaman sekarang orang akan lebih stress bila ketinggalan HP-nya dibanding ketinggalan dompetnya.  Generasi mellenial lebih banyak menghabiskan waktunya di medsos. Juga generasi mellenial masih sangat di pengaruhi oleh budaya konsumtif.”

Namun disini, saya kemudian tidak banyak mengomentari mengenai isi dari pemaparan materi pak CT tersebut. Namun disini saya akan lebih kepada pesan-pesan pak CT yang disampaikannya setelah pemaparan materi, tanya jawab dan sampai kepada closing statement  selesai dari pak CT.

Berikut kemudian pesan-pesan yang beliau sampaikan atau pesankan kepada peserta seminar tentang sebuah nilai-nilai kehidupan yang tentunya bisa menjadi penyemangat untuk meraih kesuksesan dikemudian hari, yang mungkin susah untuk kita dapatkan di ruang kelas. Yaitu yang pertama, beliau mengatakan,“mengapa orang sukses tidaklah banyak di dunia ini? Karena,  tidak ada orang yang sukses yang tidak disiplin, tidak ada orang yang sukses yang tidak berusaha dengan keras,  tidak ada orang yang sukses yang  konsumtif, orang sukses bukanlah orang yang pemalas. Sedangkan kebanyakan orang di dunia ini adalah orang yang sebaliknya yaitu pemalas, tidak disiplin, dan  konsumtif. Sehingga, jadilah orang yang berbeda dari kebanyakan orang lain.”

Kemudian yang kedua, pesannya untuk tidak menjadi orang yang hitungan-hitungan dalam memberikan suatu kepada orang lain, seperti dalam bekerja.  Usahakan untuk mengerjarkan sesuatu sesempurna mungkin. Sesuai dengan usaha maksimal kita. Dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan media sosial sebagaimana beliau tidak memiliki twitter, instagram, facebook dll. Sehingga waktunya lebih banyak untuk bekerja.

(Catatan saya: tentu kalau Generasi Mellenial akan sulit pada point ini. Karena sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Namun intinya adalah bagaimana kita bisa memenej medsos agar tidak mengganggu pekerjaan kita, karena banyak juga orang sekarang yang menjadikan medsos semacam sumber penghasilan utama).

Kemudian yang ketiga, untuk memulai segala sesuatu dengan “niat” yang baik. Karena segala keberhasilan dari pak CT adalah berasal dari niat untuk bisa bermanfaat kepada sesama. Sehingga pesannya mulai-lah dari “niat” yang baik.

Kemudian yang terakhir, yang keempat adalah semacam tantangan kepada peserta seminar. Bahwa dalam waktu 20 atau 30 tahun kedepan agar siapa saja yang sudah sukses melebihi dari pak CT, agar datang kepada beliau --ketika beliau masih hidup. Bahwa, “saya sudah lebih sukses dari anda”.
Moderatorpun bersorak kepada peserta seminar,”siap menerima tantang dari pak CT?”

“Siap!!!”. Jawab peserta seminar.

”siap menerima tantang dari pak CT?”

“Siap!!!”. Jawab peserta seminar sekali lagi.

---

Setelah seminar selesai, saya kemudian keluar dari ruang seminar dan ingin melaksanakan shalat jumat –kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jum’at. Namun karena saya belum tahu dimana tempat masjid UGM. Saya kemudian bertanya kepada salah satu mahasiswa magister UGM yang ada disamping tempat duduk saya, yang tadi saya temani bincang-bincang sebelum acara dimulai.

”mas, masjid UGM dimana ya?” tanya saya.

”ooh iya mas, mas nanti lurus terus, kemudian belok kiri, nah setelah itu kelihatan menara masjid UGM”.  Jawabnya.

“ok, terima kasih mas.”  

“sama-sama”

Saya kemudian menuju kemasjid UGM, di masjid UGM lalu saya ‘merenung’, kira-kira apakah saya bisa menjawab tantangan dari pak CT? Dalam hati saya kemudian mengatakan,”Insya Allah pasti bisa”. Semoga, aminn.  

   

   
   

Kamis, 06 Desember 2018

Meng-Kulturisasikan Diri


7 Desember...

Tulisan ini dimulai dari di cerita saya mengikuti kegiatan seminar yang diadakan oleh FITK, yaitu kegiatan yang dilakukan semacam kegiatan tahunan (Seperti kegiatan yang sering kami lakukan dulu waktu s1) Adapun  nama dan tema kegiatan kali ini mengenai ‘Seminar Nasional Pendidikan Multikulturalisme Nusantara’. Dengan pembicara diantaranya: Prof. Imam Suprayoga, Drs. KH. Dian Nafis, Dr. Hadi Suyono, Drs. M. Wahyuni Nafis, dan Dr. Sunaryo.

Materi-materi yang dibahas dalam kegiatan ini yaitu pentingnya mengenai pendidikan multikulturalisme di Indonesia sekarang ini untuk di sosialisasikan. Dengan tujuan agar bangsa Indonesia tidak ada lagi sekat-sekat di dalamnya, mengenai perpecahan antar suku, daerah dan agama, yang selama ini menjadi permasalahan nasional.

Kegiatan ini dimulia dengan susunan acara sebagaimana kegiatan seminar pada umumnya, ada pembukaan, pembacaan kitab suci Alquran, sambutan-sambutan (Dekan FITK dan Rektor UIN SUKA sekaligus membuka acara), dan acara inti yaitu penyampaian materi oleh para pembicara, yang dipandu oleh moderator Ziadatul Hasanah, M.Pd. yang merupakan Direktur Rumah Kearifan dan seorang mahasiswa doktoral di UIN SUKA.

Berikut  saya ambilkan point-point penting yang di sampaikan oleh-oleh pemateri tersebut,  yang sempat saya catat dan saya ingat. Mulai dari Prof Imam Suprayoga (baca: Prof Imam). Prof Imam memulai materinya dengan terlebih dahulu memperkenalkan dirinya yang ternyata beliau memiliki banyak prestasi ketika dia masih aktif sebagai akademisi (sekarang prof Imam sudah tua). Mulai dari mengubah IAIN menjadi UIN, Aktif di berbagai ormas seperti Muhammadiyah dan NU (pernah di PP Muhammadiyah dan menjabat di PW NU), juga menjadi ketua dari berbagai yayasan pendidikan, ikut memajukan UIN Malang, dan yang terakhir mungkin yang paling luar biasa menurut saya adalah memiliki sekitar 4.000 judul artikel yang rutin beliau tulis setiap hari (menurut beliau rutin dia tulis setiap habis shalat subuh), sehingga dari kegiatannya ini mengantarkannya mendapatkan rekor Muri dengan menulis artikel setiap hari tanpa jeda selama 2 tahun.

Kemudian,  point apa yang beliau sampaikan mengenai Pendidikan Multikulturalisme?, Yaitu pentingnya memahami terlebih dahulu mengenai siapa “aku” atau siapa “saya”. Karena menurutnya bila orang sudah mengenal dirinya maka dia akan mudah untuk menjadi manusia yang terdidik. Menurut beliau pula bahwa “seharusnya bukan hanya dokter yang tidak boleh salah, namun pendidikan juga tidak boleh salah. Kalau dokter salah maka pasiennya paling hanya mati satu (yang disambut ketawa oleh audiens)  namun bila pendidikan salah, maka dia akan hidup bertahun-tahun dan menyesatkan banyak orang.” Juga menurut beliau, dengan sebuah pertanyaan bahwa ”sebenarnya apa yang selama ini didik oleh pendidikan kita?, karena secara logika seharusnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka dia akan semakin jujur, amanah, beraklaq, dll. Namun yang terjadi sejak dari TK siswa kita masih jujur-jujur dan masih polos-polos, lalu naik SD sampai perguruan tinggi nyatanya malah semakin nakal.”

Sehingga kesimpulan beliau, bahwa akar permasalah pendidikan kita adalah karena yang dididik bukan “saya” (jiwa atau ruh yang ada dalam diri, ketika malam diambil oleh Allah) namun yang dididik adalah alat dari “saya” itu (otak, mata, telinga, kaki, dll) sehingga hanya melahirkan orang-orang yang pintar tapi tidak berakhlaq (catatan penulis: yang bagus tidak hanya pintar dan cerdas tapi juga berakhlaq).

Kemudian pembicara kedua yaitu Drs. KH. M. Dian Nafi, M.Pd. Beliau adalah salah seorang pimpinan pesantren mahasiswa Al-muayyad Winda. Point-point yang beliau sampaikan adalah kelanjutan dari materi Prof Imam, tentang siapa “saya”. Maka “saya” yang berjiwa Multikultural adalah orang yang tahu “saya” ketika menjadi anak, saya ketika menjadi pelajar, saya ketika menjadi orang tua, saya ketika bersama dengan masyarakat, saya ketika bergaul dengan guru, pedagang, petani, nelayan, dll. Saya adalah tahu menempatkan diri ketika berada di tengah-tengah sesama. Sehingga program-program yang di buat di pesantren yang beliau pimpin adalah program Vokasi dan Profesi. Vokasi semacam soft skill untuk bisa mandiri dan bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang butuh pelatihan yang mendalam. Sedakang profesi adalah butuh pendidikan keahlian dan pertanggungjawaban pendidikan. Sehingga tujuannya adalah untuk dapat memajukan kehidupan, baik dirinya, keluarga, maupun bangsa dan negara.

Lalu pembica ketiga Drs. M. Wahyuni Nafis, M.A, direktur sekolah Madania. Sekolah Madania yang mengelola pendidikan dari TK  sampai SMA atau Sekolah Menengah Atas (semacam sekolah gabungan pesantren dan umum). Sistem pendidikan di sekolah ini adalah mengadopsi dari nilai-nilai pendidikan multikural. Sehingga siapapun bisa masuk ke sekolah tersebut, tidak pandang suku, bangsa dan agama. Olehnya itu dari berbagai macam kulture yang ada di sekolah ini, kemudian melahirkan program-program yang memperkenalkan dan menanamkan kepada siswanya sejak dari kecil untuk bisa menerima kerangaman budaya. Seperti progam festifal Budaya, magang, membantu orang lain selama 10 jam dan wajib membaca 10 buku dalam setahun. Sehingga pendidikan yang kemudian ditonjolkan adalah mengenai Learning Live Togheter.

Kemudian pembicara selanjutnya adalah Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si. beliau adalah pengajar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Beliau mengawali dengan memperkenalkan dirinya bahwa beliau adalah seorang yang telah menerapkan pendidikan multikultalisme di keluarganya misalnya, Dr Hadi sendiri adalah orang jawa sedangkan istrinya adalah orang sumatera. Sehingga bangunan dalam rumah tangganya yang percampuran budaya jawa dan sumatera, dibangun dengan kedua budaya tersebut. maka terkadang Dr Hadi mengikuti budaya sumatera sedangkan istrinya mengikuti budaya jawa. Karena bila tidak demikian bisa terjadi masalah. Adapun point-point yang beliau sampaikan yaitu dua point pokok (walaupun beliau sudah menyiapkan materi yang banyak namun karena waktu, sehingga beliau singkat-singkat saja kepada point-point pentingnya). Point pertama, bahwa manusia itu hendaknya memiliki konsep diri terlebih dahulu (prinsip, keyakinan, dan nilai-nilai diri), lalu mengarah kepada konsep diri sosial, dari konsep diri sosial ini maka akan melahirkan altruisme (semangat, menolong tanpa pamrih), empati (merasakan apa yang dirasakan orang lain), penyesuain diri (namun tidak meninggalkan ciri khas), dan sikap toleran. Sehingga dari hasilnya nanti akan menciptkan pribadi yang multikultural. Konsepnya bisa ilustrasi berikut:

KONSEP DIRI ---> KONSEP DIRI SOSIAL ---> ALTRUISME, EMPATI, PENYESUAIN DIRI, TOLERAN --->  PRIBADI MULTI KULTURAL.

Lalu point keduanya adalah tentang memahami Psikoedukasi yaitu bagaimana menumbuhkan soft skill’s. Soft skill’s ini seperti: keterampilan sosial, komunikasi efektif, problem solving, adaptation skill, dan teamwork.

Lalu pemateri terakhir yaitu Dr. Sunaryo seorang akademisi dari Universitas Paramadina. Materi beliau lebih kepada persoalan bangsa secara general khususnya mengenai multikultaralisme. Beliau mengatakan bahwa masalah bangsa kita yaitu mengenai masalah identitas bangsa yang terkadang masih lebih superior antara suatu daerah dengan daerah yang lain (penafsiran sendiri). Sehingga melalui lembaga yang dia pimpin di Universitas Paramadina membuatkan program-program yang mengarah kepada bagaimana mempersatukan bangsa, seperti: pelatihan-pelatihan, duskisi-diskusi, dll.

----

Itulah point-point penting yang di sampaikan oleh para pemateri pada seminar nasional FITK. Lalu apa kemudian yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari seminar ini?, secara pribadi meteri Multikulral ini sangat bermanfaat bagi saya. Karena, selama ini pemahaman saya akan budaya-budaya di Indonesia masih sangat didominasi oleh suporioritas antara satu suku dengan suku yang lain. Antara suka jawa, sunda, batak, melayu, bugis, papua, mandar, borneo, dll. Yang sangat kental akan persaingan siapa yang paling hebat diantara mereka, sehingga kadang terjadi benturan, gesekan-gesekan, dan tidak ingin bergaul dengan orang yang bukan dari sukunya.

Dari materi ini juga, kemudian membuka ‘mata’ saya untuk lebih torelan terhadap sesama (walaupun tidak melepaskan konsep diri saya. Dan juga, mungkin inilah yang menjadi penyebab saya kurang bergaul selama ini). Dan betul saja, ketika acara selesai dan mencoba mempraktekkan hasil seminar tersebut, saya lebih ‘terbuka’ terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Dan kejadian menariknya,  ketika perjalanan pulang, diatas TU tiba-tiba sikap toleran saya diuji, “puji tuhan yesus!, bagaimana kabarnya sekarang dia di Ambon.” Kata seorang perempuan dibelakang saya yang sedang mengobrol dengan temannya.

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...