Kamis, 06 Desember 2018

Meng-Kulturisasikan Diri


7 Desember...

Tulisan ini dimulai dari di cerita saya mengikuti kegiatan seminar yang diadakan oleh FITK, yaitu kegiatan yang dilakukan semacam kegiatan tahunan (Seperti kegiatan yang sering kami lakukan dulu waktu s1) Adapun  nama dan tema kegiatan kali ini mengenai ‘Seminar Nasional Pendidikan Multikulturalisme Nusantara’. Dengan pembicara diantaranya: Prof. Imam Suprayoga, Drs. KH. Dian Nafis, Dr. Hadi Suyono, Drs. M. Wahyuni Nafis, dan Dr. Sunaryo.

Materi-materi yang dibahas dalam kegiatan ini yaitu pentingnya mengenai pendidikan multikulturalisme di Indonesia sekarang ini untuk di sosialisasikan. Dengan tujuan agar bangsa Indonesia tidak ada lagi sekat-sekat di dalamnya, mengenai perpecahan antar suku, daerah dan agama, yang selama ini menjadi permasalahan nasional.

Kegiatan ini dimulia dengan susunan acara sebagaimana kegiatan seminar pada umumnya, ada pembukaan, pembacaan kitab suci Alquran, sambutan-sambutan (Dekan FITK dan Rektor UIN SUKA sekaligus membuka acara), dan acara inti yaitu penyampaian materi oleh para pembicara, yang dipandu oleh moderator Ziadatul Hasanah, M.Pd. yang merupakan Direktur Rumah Kearifan dan seorang mahasiswa doktoral di UIN SUKA.

Berikut  saya ambilkan point-point penting yang di sampaikan oleh-oleh pemateri tersebut,  yang sempat saya catat dan saya ingat. Mulai dari Prof Imam Suprayoga (baca: Prof Imam). Prof Imam memulai materinya dengan terlebih dahulu memperkenalkan dirinya yang ternyata beliau memiliki banyak prestasi ketika dia masih aktif sebagai akademisi (sekarang prof Imam sudah tua). Mulai dari mengubah IAIN menjadi UIN, Aktif di berbagai ormas seperti Muhammadiyah dan NU (pernah di PP Muhammadiyah dan menjabat di PW NU), juga menjadi ketua dari berbagai yayasan pendidikan, ikut memajukan UIN Malang, dan yang terakhir mungkin yang paling luar biasa menurut saya adalah memiliki sekitar 4.000 judul artikel yang rutin beliau tulis setiap hari (menurut beliau rutin dia tulis setiap habis shalat subuh), sehingga dari kegiatannya ini mengantarkannya mendapatkan rekor Muri dengan menulis artikel setiap hari tanpa jeda selama 2 tahun.

Kemudian,  point apa yang beliau sampaikan mengenai Pendidikan Multikulturalisme?, Yaitu pentingnya memahami terlebih dahulu mengenai siapa “aku” atau siapa “saya”. Karena menurutnya bila orang sudah mengenal dirinya maka dia akan mudah untuk menjadi manusia yang terdidik. Menurut beliau pula bahwa “seharusnya bukan hanya dokter yang tidak boleh salah, namun pendidikan juga tidak boleh salah. Kalau dokter salah maka pasiennya paling hanya mati satu (yang disambut ketawa oleh audiens)  namun bila pendidikan salah, maka dia akan hidup bertahun-tahun dan menyesatkan banyak orang.” Juga menurut beliau, dengan sebuah pertanyaan bahwa ”sebenarnya apa yang selama ini didik oleh pendidikan kita?, karena secara logika seharusnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka dia akan semakin jujur, amanah, beraklaq, dll. Namun yang terjadi sejak dari TK siswa kita masih jujur-jujur dan masih polos-polos, lalu naik SD sampai perguruan tinggi nyatanya malah semakin nakal.”

Sehingga kesimpulan beliau, bahwa akar permasalah pendidikan kita adalah karena yang dididik bukan “saya” (jiwa atau ruh yang ada dalam diri, ketika malam diambil oleh Allah) namun yang dididik adalah alat dari “saya” itu (otak, mata, telinga, kaki, dll) sehingga hanya melahirkan orang-orang yang pintar tapi tidak berakhlaq (catatan penulis: yang bagus tidak hanya pintar dan cerdas tapi juga berakhlaq).

Kemudian pembicara kedua yaitu Drs. KH. M. Dian Nafi, M.Pd. Beliau adalah salah seorang pimpinan pesantren mahasiswa Al-muayyad Winda. Point-point yang beliau sampaikan adalah kelanjutan dari materi Prof Imam, tentang siapa “saya”. Maka “saya” yang berjiwa Multikultural adalah orang yang tahu “saya” ketika menjadi anak, saya ketika menjadi pelajar, saya ketika menjadi orang tua, saya ketika bersama dengan masyarakat, saya ketika bergaul dengan guru, pedagang, petani, nelayan, dll. Saya adalah tahu menempatkan diri ketika berada di tengah-tengah sesama. Sehingga program-program yang di buat di pesantren yang beliau pimpin adalah program Vokasi dan Profesi. Vokasi semacam soft skill untuk bisa mandiri dan bisa hidup di tengah-tengah masyarakat yang butuh pelatihan yang mendalam. Sedakang profesi adalah butuh pendidikan keahlian dan pertanggungjawaban pendidikan. Sehingga tujuannya adalah untuk dapat memajukan kehidupan, baik dirinya, keluarga, maupun bangsa dan negara.

Lalu pembica ketiga Drs. M. Wahyuni Nafis, M.A, direktur sekolah Madania. Sekolah Madania yang mengelola pendidikan dari TK  sampai SMA atau Sekolah Menengah Atas (semacam sekolah gabungan pesantren dan umum). Sistem pendidikan di sekolah ini adalah mengadopsi dari nilai-nilai pendidikan multikural. Sehingga siapapun bisa masuk ke sekolah tersebut, tidak pandang suku, bangsa dan agama. Olehnya itu dari berbagai macam kulture yang ada di sekolah ini, kemudian melahirkan program-program yang memperkenalkan dan menanamkan kepada siswanya sejak dari kecil untuk bisa menerima kerangaman budaya. Seperti progam festifal Budaya, magang, membantu orang lain selama 10 jam dan wajib membaca 10 buku dalam setahun. Sehingga pendidikan yang kemudian ditonjolkan adalah mengenai Learning Live Togheter.

Kemudian pembicara selanjutnya adalah Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si. beliau adalah pengajar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Beliau mengawali dengan memperkenalkan dirinya bahwa beliau adalah seorang yang telah menerapkan pendidikan multikultalisme di keluarganya misalnya, Dr Hadi sendiri adalah orang jawa sedangkan istrinya adalah orang sumatera. Sehingga bangunan dalam rumah tangganya yang percampuran budaya jawa dan sumatera, dibangun dengan kedua budaya tersebut. maka terkadang Dr Hadi mengikuti budaya sumatera sedangkan istrinya mengikuti budaya jawa. Karena bila tidak demikian bisa terjadi masalah. Adapun point-point yang beliau sampaikan yaitu dua point pokok (walaupun beliau sudah menyiapkan materi yang banyak namun karena waktu, sehingga beliau singkat-singkat saja kepada point-point pentingnya). Point pertama, bahwa manusia itu hendaknya memiliki konsep diri terlebih dahulu (prinsip, keyakinan, dan nilai-nilai diri), lalu mengarah kepada konsep diri sosial, dari konsep diri sosial ini maka akan melahirkan altruisme (semangat, menolong tanpa pamrih), empati (merasakan apa yang dirasakan orang lain), penyesuain diri (namun tidak meninggalkan ciri khas), dan sikap toleran. Sehingga dari hasilnya nanti akan menciptkan pribadi yang multikultural. Konsepnya bisa ilustrasi berikut:

KONSEP DIRI ---> KONSEP DIRI SOSIAL ---> ALTRUISME, EMPATI, PENYESUAIN DIRI, TOLERAN --->  PRIBADI MULTI KULTURAL.

Lalu point keduanya adalah tentang memahami Psikoedukasi yaitu bagaimana menumbuhkan soft skill’s. Soft skill’s ini seperti: keterampilan sosial, komunikasi efektif, problem solving, adaptation skill, dan teamwork.

Lalu pemateri terakhir yaitu Dr. Sunaryo seorang akademisi dari Universitas Paramadina. Materi beliau lebih kepada persoalan bangsa secara general khususnya mengenai multikultaralisme. Beliau mengatakan bahwa masalah bangsa kita yaitu mengenai masalah identitas bangsa yang terkadang masih lebih superior antara suatu daerah dengan daerah yang lain (penafsiran sendiri). Sehingga melalui lembaga yang dia pimpin di Universitas Paramadina membuatkan program-program yang mengarah kepada bagaimana mempersatukan bangsa, seperti: pelatihan-pelatihan, duskisi-diskusi, dll.

----

Itulah point-point penting yang di sampaikan oleh para pemateri pada seminar nasional FITK. Lalu apa kemudian yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari seminar ini?, secara pribadi meteri Multikulral ini sangat bermanfaat bagi saya. Karena, selama ini pemahaman saya akan budaya-budaya di Indonesia masih sangat didominasi oleh suporioritas antara satu suku dengan suku yang lain. Antara suka jawa, sunda, batak, melayu, bugis, papua, mandar, borneo, dll. Yang sangat kental akan persaingan siapa yang paling hebat diantara mereka, sehingga kadang terjadi benturan, gesekan-gesekan, dan tidak ingin bergaul dengan orang yang bukan dari sukunya.

Dari materi ini juga, kemudian membuka ‘mata’ saya untuk lebih torelan terhadap sesama (walaupun tidak melepaskan konsep diri saya. Dan juga, mungkin inilah yang menjadi penyebab saya kurang bergaul selama ini). Dan betul saja, ketika acara selesai dan mencoba mempraktekkan hasil seminar tersebut, saya lebih ‘terbuka’ terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Dan kejadian menariknya,  ketika perjalanan pulang, diatas TU tiba-tiba sikap toleran saya diuji, “puji tuhan yesus!, bagaimana kabarnya sekarang dia di Ambon.” Kata seorang perempuan dibelakang saya yang sedang mengobrol dengan temannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...