Tulisan ini dimulai dari di cerita saya mengikuti kegiatan
seminar yang diadakan oleh FITK, yaitu kegiatan yang dilakukan semacam kegiatan
tahunan (Seperti kegiatan yang sering kami lakukan dulu waktu s1) Adapun nama dan tema kegiatan kali ini mengenai ‘Seminar
Nasional Pendidikan Multikulturalisme Nusantara’. Dengan pembicara diantaranya:
Prof. Imam Suprayoga, Drs. KH. Dian Nafis, Dr. Hadi Suyono, Drs. M. Wahyuni
Nafis, dan Dr. Sunaryo.
Materi-materi yang dibahas dalam kegiatan ini yaitu
pentingnya mengenai pendidikan multikulturalisme di Indonesia sekarang ini
untuk di sosialisasikan. Dengan tujuan agar bangsa Indonesia tidak ada lagi
sekat-sekat di dalamnya, mengenai perpecahan antar suku, daerah dan agama, yang
selama ini menjadi permasalahan nasional.
Kegiatan ini dimulia dengan susunan acara sebagaimana
kegiatan seminar pada umumnya, ada pembukaan, pembacaan kitab suci Alquran,
sambutan-sambutan (Dekan FITK dan Rektor UIN SUKA sekaligus membuka acara), dan
acara inti yaitu penyampaian materi oleh para pembicara, yang dipandu oleh
moderator Ziadatul Hasanah, M.Pd. yang merupakan Direktur Rumah Kearifan dan seorang
mahasiswa doktoral di UIN SUKA.
Berikut saya ambilkan
point-point penting yang di sampaikan oleh-oleh pemateri tersebut, yang sempat saya catat dan saya ingat. Mulai dari
Prof Imam Suprayoga (baca: Prof Imam). Prof Imam memulai materinya dengan
terlebih dahulu memperkenalkan dirinya yang ternyata beliau memiliki banyak
prestasi ketika dia masih aktif sebagai akademisi (sekarang prof Imam sudah
tua). Mulai dari mengubah IAIN menjadi UIN, Aktif di berbagai ormas seperti Muhammadiyah
dan NU (pernah di PP Muhammadiyah dan menjabat di PW NU), juga menjadi ketua
dari berbagai yayasan pendidikan, ikut memajukan UIN Malang, dan yang terakhir
mungkin yang paling luar biasa menurut saya adalah memiliki sekitar 4.000 judul
artikel yang rutin beliau tulis setiap hari (menurut beliau rutin dia tulis
setiap habis shalat subuh), sehingga dari kegiatannya ini mengantarkannya
mendapatkan rekor Muri dengan menulis artikel setiap hari tanpa jeda selama 2
tahun.
Kemudian, point apa
yang beliau sampaikan mengenai Pendidikan Multikulturalisme?, Yaitu pentingnya
memahami terlebih dahulu mengenai siapa “aku” atau siapa “saya”. Karena menurutnya
bila orang sudah mengenal dirinya maka dia akan mudah untuk menjadi manusia
yang terdidik. Menurut beliau pula bahwa “seharusnya bukan hanya dokter yang
tidak boleh salah, namun pendidikan juga tidak boleh salah. Kalau dokter salah
maka pasiennya paling hanya mati satu (yang disambut ketawa oleh audiens) namun bila pendidikan salah, maka dia akan
hidup bertahun-tahun dan menyesatkan banyak orang.” Juga menurut beliau, dengan
sebuah pertanyaan bahwa ”sebenarnya apa yang selama ini didik oleh pendidikan
kita?, karena secara logika seharusnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka
dia akan semakin jujur, amanah, beraklaq, dll. Namun yang terjadi sejak dari TK
siswa kita masih jujur-jujur dan masih polos-polos, lalu naik SD sampai
perguruan tinggi nyatanya malah semakin nakal.”
Sehingga kesimpulan beliau, bahwa akar permasalah pendidikan
kita adalah karena yang dididik bukan “saya” (jiwa atau ruh yang ada dalam
diri, ketika malam diambil oleh Allah) namun yang dididik adalah alat dari “saya”
itu (otak, mata, telinga, kaki, dll) sehingga hanya melahirkan orang-orang yang
pintar tapi tidak berakhlaq (catatan penulis: yang bagus tidak hanya pintar dan
cerdas tapi juga berakhlaq).
Kemudian pembicara kedua yaitu Drs. KH. M. Dian Nafi, M.Pd. Beliau
adalah salah seorang pimpinan pesantren mahasiswa Al-muayyad Winda. Point-point
yang beliau sampaikan adalah kelanjutan dari materi Prof Imam, tentang siapa “saya”.
Maka “saya” yang berjiwa Multikultural adalah orang yang tahu “saya” ketika
menjadi anak, saya ketika menjadi pelajar, saya ketika menjadi orang tua, saya
ketika bersama dengan masyarakat, saya ketika bergaul dengan guru, pedagang,
petani, nelayan, dll. Saya adalah tahu menempatkan diri ketika berada di
tengah-tengah sesama. Sehingga program-program yang di buat di pesantren yang
beliau pimpin adalah program Vokasi dan Profesi. Vokasi semacam soft skill untuk bisa mandiri dan bisa
hidup di tengah-tengah masyarakat yang butuh pelatihan yang mendalam. Sedakang profesi
adalah butuh pendidikan keahlian dan pertanggungjawaban pendidikan. Sehingga tujuannya
adalah untuk dapat memajukan kehidupan, baik dirinya, keluarga, maupun bangsa
dan negara.
Lalu pembica ketiga Drs. M. Wahyuni Nafis, M.A, direktur
sekolah Madania. Sekolah Madania yang mengelola pendidikan dari TK sampai SMA atau Sekolah Menengah Atas (semacam
sekolah gabungan pesantren dan umum). Sistem pendidikan di sekolah ini adalah
mengadopsi dari nilai-nilai pendidikan multikural. Sehingga siapapun bisa masuk
ke sekolah tersebut, tidak pandang suku, bangsa dan agama. Olehnya itu dari
berbagai macam kulture yang ada di sekolah ini, kemudian melahirkan
program-program yang memperkenalkan dan menanamkan kepada siswanya sejak dari
kecil untuk bisa menerima kerangaman budaya. Seperti progam festifal Budaya,
magang, membantu orang lain selama 10 jam dan wajib membaca 10 buku dalam
setahun. Sehingga pendidikan yang kemudian ditonjolkan adalah mengenai Learning Live Togheter.
Kemudian pembicara selanjutnya adalah Dr. Hadi Suyono,
S.Psi., M.Si. beliau adalah pengajar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Beliau mengawali dengan memperkenalkan dirinya bahwa beliau adalah seorang yang
telah menerapkan pendidikan multikultalisme di keluarganya misalnya, Dr Hadi
sendiri adalah orang jawa sedangkan istrinya adalah orang sumatera. Sehingga
bangunan dalam rumah tangganya yang percampuran budaya jawa dan sumatera, dibangun
dengan kedua budaya tersebut. maka terkadang Dr Hadi mengikuti budaya sumatera sedangkan
istrinya mengikuti budaya jawa. Karena bila tidak demikian bisa terjadi masalah.
Adapun point-point yang beliau sampaikan yaitu dua point pokok (walaupun beliau
sudah menyiapkan materi yang banyak namun karena waktu, sehingga beliau
singkat-singkat saja kepada point-point pentingnya). Point pertama, bahwa manusia
itu hendaknya memiliki konsep diri
terlebih dahulu (prinsip, keyakinan, dan nilai-nilai diri), lalu mengarah
kepada konsep diri sosial, dari
konsep diri sosial ini maka akan melahirkan altruisme
(semangat, menolong tanpa pamrih), empati
(merasakan apa yang dirasakan orang lain), penyesuain
diri (namun tidak meninggalkan ciri khas), dan sikap toleran. Sehingga dari hasilnya nanti akan menciptkan pribadi yang multikultural. Konsepnya
bisa ilustrasi berikut:
KONSEP DIRI ---> KONSEP DIRI SOSIAL ---> ALTRUISME, EMPATI, PENYESUAIN DIRI, TOLERAN ---> PRIBADI MULTI KULTURAL.
Lalu point keduanya adalah tentang memahami Psikoedukasi yaitu bagaimana menumbuhkan
soft skill’s. Soft skill’s ini seperti: keterampilan sosial,
komunikasi efektif, problem solving, adaptation
skill, dan teamwork.
Lalu pemateri terakhir yaitu Dr. Sunaryo seorang akademisi
dari Universitas Paramadina. Materi beliau lebih kepada persoalan bangsa secara
general khususnya mengenai
multikultaralisme. Beliau mengatakan bahwa masalah bangsa kita yaitu mengenai
masalah identitas bangsa yang terkadang masih lebih superior antara suatu daerah
dengan daerah yang lain (penafsiran sendiri). Sehingga melalui lembaga yang dia
pimpin di Universitas Paramadina membuatkan program-program yang mengarah kepada
bagaimana mempersatukan bangsa, seperti: pelatihan-pelatihan, duskisi-diskusi,
dll.
----
Itulah point-point penting yang di sampaikan oleh para
pemateri pada seminar nasional FITK. Lalu apa kemudian yang bisa saya ambil
sebagai pelajaran dari seminar ini?, secara pribadi meteri Multikulral ini sangat
bermanfaat bagi saya. Karena, selama ini pemahaman saya akan budaya-budaya di
Indonesia masih sangat didominasi oleh suporioritas antara satu suku dengan
suku yang lain. Antara suka jawa, sunda, batak, melayu, bugis, papua, mandar,
borneo, dll. Yang sangat kental akan persaingan siapa yang paling hebat
diantara mereka, sehingga kadang terjadi benturan, gesekan-gesekan, dan tidak
ingin bergaul dengan orang yang bukan dari sukunya.
Dari materi ini juga, kemudian membuka ‘mata’ saya untuk
lebih torelan terhadap sesama (walaupun tidak melepaskan konsep diri saya. Dan juga,
mungkin inilah yang menjadi penyebab saya kurang bergaul selama ini). Dan betul
saja, ketika acara selesai dan mencoba mempraktekkan hasil seminar tersebut,
saya lebih ‘terbuka’ terhadap orang-orang yang ada di sekitar saya. Dan
kejadian menariknya, ketika perjalanan
pulang, diatas TU tiba-tiba sikap toleran saya diuji, “puji tuhan yesus!,
bagaimana kabarnya sekarang dia di Ambon.” Kata seorang perempuan dibelakang
saya yang sedang mengobrol dengan temannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar