Jumat, 14 Desember 2018

Tantangan dari Pak Chairul Tanjung


14 Desember.....

Baik, sekarang saya akan melanjutkan untuk menulis catatan harian ini. Namun saya bingung mau membahas apa dan memulai dari mana. Oke, saya akan mulai saja, membahas mengenai pengalaman saya mengikuti seminar beberapa pekan yang lalu di UGM, yang mana pembicaranya adalah salah satu orang terkaya di Indonesia, mungkin tidak hanya Indonesia namun juga dunia. Beliau adalah bapak Chairul Tanjung.

Saya lumayan mengenal pak CT dari biografinya. Karena sejak saya S1 kemarin, salah satu buku favorit saya adalah buku pak CT yang berjudul ‘Anak Singkong’. Buku tersebut sangat saya senangi, karena bisa menjadi motivasi saya bila saya lagi kurang bersemangat. Dalam buku tersebut dikisahkan mengenai bagaimana perjalanan hidup seorang CT yang luar biasa.

Yang mana seorang CT yang sejak kecil sudah akrab dengan perjuangan dalam mencapai kesuksesan-kesuksesannya. Ketika itu CT hanyalah orang yang berasal dari keluarga menengah kebawah namun dengan perjuangannya dalam belajar dan mencari uang lalu kemudian bisa kuliah di Universitas Indonesia.

Perjuangannya tidak sampai disitu, karena ketika awal-awal kuliah di kedokteran gigi UI. Ternyata biaya kuliah CT adalah hasil dari penjualan sarung ibunya. Ketika  CT mengetahui hal tersebut,  CT kemudian sedih, lalu CT berjanji tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya untuk membiayai kuliahnya. Sehingga pada saat itu CT kuliah dengan mengandalkan uang kerja kerasnya sendiri. Dengan berdagang kecil-kecilan; membuka usaha fotocopy dan bisnis alat praktek kedokteran gigi yang di jual kepada teman-temannya. Sehingga kemudian CT pernah menjadi mahasiswa teladan se-Indonesia pada waktu itu.

Setelah lulus dari UI, CT kemudian tidak menjadi seorang dokter gigi, namun malah menjadi seorang pengusaha sukses, yang usahanya bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini. Perusahan tersebut berada dibawah naungan CT Grup (yang mana CT sendiri sebagai presidennya), seperti: transmall yang ada di kota-kota besar di Indonesia, carrefour, trans studio (semacam perpaduan Mall dan tempat wisata), kemudian televisi seperti Trans TV, Trans 7, media online detik.com, perbank-kan yaitu bank mega, dan juga memiliki beberapa saham di Garuda Indonesia. Sehingga kemudian CT dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia.

CT juga pernah menjabat sebagai menteri Ekonomi pada zaman presiden SBY, ketua KEN (komite ekonomi nasional) dan salah satu penasehat MUI pusat. Sehingga CT tidak hanya dikenal sebagai Nasionalis namun juga religius.

---

Lalu apa kemudian yang ingin saya sampaikan disini? bahwa untuk menjadi orang sukses kita tidak bisa melihat mereka sekarang dengan kesuksesan-kesuksesannya. Namun bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari proses orang mereka menjadi sukses. Yang tentunya tidaklah mudah dan penuh tantangan. Namun semua itu bisa dilalui bila kita punya motivasi serta keinginan yang besar. Dan niat yang benar.

---

Kita kembali membahas mengenai seminar di UGM tersebut, yang kemudian ada beberapa hal yang bisa saya share dari presentasi pak CT ketika menyampaikan meterinya tentang ‘kepemimpinan inovasi di era distrubsi’ di UGM Pada tanggal 30 November kemarin. Ketika itu pemaparan pak CT mengenai era distrubsi dan kepemimpinan inovasi sungguh sangat menarik, karena dilengkapi dengan data-data yang jelas dan didukung dengan slide-slide yang bagus.

Pak CT memaparan mengenai kondisi kita saat ini, utamanya kondisi mellenial sekarang dalam menghadapi era distrubsi, yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Menurut beliau, “ zaman sekarang orang akan lebih stress bila ketinggalan HP-nya dibanding ketinggalan dompetnya.  Generasi mellenial lebih banyak menghabiskan waktunya di medsos. Juga generasi mellenial masih sangat di pengaruhi oleh budaya konsumtif.”

Namun disini, saya kemudian tidak banyak mengomentari mengenai isi dari pemaparan materi pak CT tersebut. Namun disini saya akan lebih kepada pesan-pesan pak CT yang disampaikannya setelah pemaparan materi, tanya jawab dan sampai kepada closing statement  selesai dari pak CT.

Berikut kemudian pesan-pesan yang beliau sampaikan atau pesankan kepada peserta seminar tentang sebuah nilai-nilai kehidupan yang tentunya bisa menjadi penyemangat untuk meraih kesuksesan dikemudian hari, yang mungkin susah untuk kita dapatkan di ruang kelas. Yaitu yang pertama, beliau mengatakan,“mengapa orang sukses tidaklah banyak di dunia ini? Karena,  tidak ada orang yang sukses yang tidak disiplin, tidak ada orang yang sukses yang tidak berusaha dengan keras,  tidak ada orang yang sukses yang  konsumtif, orang sukses bukanlah orang yang pemalas. Sedangkan kebanyakan orang di dunia ini adalah orang yang sebaliknya yaitu pemalas, tidak disiplin, dan  konsumtif. Sehingga, jadilah orang yang berbeda dari kebanyakan orang lain.”

Kemudian yang kedua, pesannya untuk tidak menjadi orang yang hitungan-hitungan dalam memberikan suatu kepada orang lain, seperti dalam bekerja.  Usahakan untuk mengerjarkan sesuatu sesempurna mungkin. Sesuai dengan usaha maksimal kita. Dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan media sosial sebagaimana beliau tidak memiliki twitter, instagram, facebook dll. Sehingga waktunya lebih banyak untuk bekerja.

(Catatan saya: tentu kalau Generasi Mellenial akan sulit pada point ini. Karena sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Namun intinya adalah bagaimana kita bisa memenej medsos agar tidak mengganggu pekerjaan kita, karena banyak juga orang sekarang yang menjadikan medsos semacam sumber penghasilan utama).

Kemudian yang ketiga, untuk memulai segala sesuatu dengan “niat” yang baik. Karena segala keberhasilan dari pak CT adalah berasal dari niat untuk bisa bermanfaat kepada sesama. Sehingga pesannya mulai-lah dari “niat” yang baik.

Kemudian yang terakhir, yang keempat adalah semacam tantangan kepada peserta seminar. Bahwa dalam waktu 20 atau 30 tahun kedepan agar siapa saja yang sudah sukses melebihi dari pak CT, agar datang kepada beliau --ketika beliau masih hidup. Bahwa, “saya sudah lebih sukses dari anda”.
Moderatorpun bersorak kepada peserta seminar,”siap menerima tantang dari pak CT?”

“Siap!!!”. Jawab peserta seminar.

”siap menerima tantang dari pak CT?”

“Siap!!!”. Jawab peserta seminar sekali lagi.

---

Setelah seminar selesai, saya kemudian keluar dari ruang seminar dan ingin melaksanakan shalat jumat –kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jum’at. Namun karena saya belum tahu dimana tempat masjid UGM. Saya kemudian bertanya kepada salah satu mahasiswa magister UGM yang ada disamping tempat duduk saya, yang tadi saya temani bincang-bincang sebelum acara dimulai.

”mas, masjid UGM dimana ya?” tanya saya.

”ooh iya mas, mas nanti lurus terus, kemudian belok kiri, nah setelah itu kelihatan menara masjid UGM”.  Jawabnya.

“ok, terima kasih mas.”  

“sama-sama”

Saya kemudian menuju kemasjid UGM, di masjid UGM lalu saya ‘merenung’, kira-kira apakah saya bisa menjawab tantangan dari pak CT? Dalam hati saya kemudian mengatakan,”Insya Allah pasti bisa”. Semoga, aminn.  

   

   
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Searching Day

18 Januari 2019... [18.41] Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adal...