14 Desember.....
Baik, sekarang saya akan melanjutkan untuk menulis catatan
harian ini. Namun saya bingung mau membahas apa dan memulai dari mana. Oke, saya
akan mulai saja, membahas mengenai pengalaman saya mengikuti seminar beberapa
pekan yang lalu di UGM, yang mana pembicaranya adalah salah satu orang terkaya
di Indonesia, mungkin tidak hanya Indonesia namun juga dunia. Beliau adalah
bapak Chairul Tanjung.
Saya lumayan mengenal pak CT dari biografinya. Karena sejak
saya S1 kemarin, salah satu buku favorit saya adalah buku pak CT yang berjudul ‘Anak
Singkong’. Buku tersebut sangat saya senangi, karena bisa menjadi motivasi saya
bila saya lagi kurang bersemangat. Dalam buku tersebut dikisahkan mengenai
bagaimana perjalanan hidup seorang CT yang luar biasa.
Yang mana seorang CT yang sejak kecil sudah akrab dengan perjuangan
dalam mencapai kesuksesan-kesuksesannya. Ketika itu CT hanyalah orang yang
berasal dari keluarga menengah kebawah namun dengan perjuangannya dalam belajar
dan mencari uang lalu kemudian bisa kuliah di Universitas Indonesia.
Perjuangannya tidak sampai disitu, karena ketika awal-awal
kuliah di kedokteran gigi UI. Ternyata biaya kuliah CT adalah hasil dari penjualan
sarung ibunya. Ketika CT mengetahui hal
tersebut, CT kemudian sedih, lalu CT
berjanji tidak akan meminta uang lagi kepada orang tuanya untuk membiayai
kuliahnya. Sehingga pada saat itu CT kuliah dengan mengandalkan uang kerja kerasnya
sendiri. Dengan berdagang kecil-kecilan; membuka usaha fotocopy dan bisnis alat
praktek kedokteran gigi yang di jual kepada teman-temannya. Sehingga kemudian
CT pernah menjadi mahasiswa teladan se-Indonesia pada waktu itu.
Setelah lulus dari UI, CT kemudian tidak menjadi seorang
dokter gigi, namun malah menjadi seorang pengusaha sukses, yang usahanya bisa
kita lihat dan rasakan sekarang ini. Perusahan tersebut berada dibawah naungan
CT Grup (yang mana CT sendiri sebagai presidennya), seperti: transmall yang ada
di kota-kota besar di Indonesia, carrefour, trans studio (semacam perpaduan
Mall dan tempat wisata), kemudian televisi seperti Trans TV, Trans 7, media
online detik.com, perbank-kan yaitu bank mega, dan juga memiliki beberapa saham
di Garuda Indonesia. Sehingga kemudian CT dinobatkan sebagai salah satu orang
terkaya di dunia.
CT juga pernah menjabat sebagai menteri Ekonomi pada zaman
presiden SBY, ketua KEN (komite ekonomi nasional) dan salah satu penasehat MUI
pusat. Sehingga CT tidak hanya dikenal sebagai Nasionalis namun juga religius.
---
Lalu apa kemudian yang ingin saya sampaikan disini? bahwa
untuk menjadi orang sukses kita tidak bisa melihat mereka sekarang dengan
kesuksesan-kesuksesannya. Namun bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari
proses orang mereka menjadi sukses. Yang tentunya tidaklah mudah dan penuh
tantangan. Namun semua itu bisa dilalui bila kita punya motivasi serta keinginan
yang besar. Dan niat yang benar.
---
Kita kembali membahas mengenai seminar di UGM tersebut, yang
kemudian ada beberapa hal yang bisa saya share
dari presentasi pak CT ketika menyampaikan meterinya tentang ‘kepemimpinan
inovasi di era distrubsi’ di UGM Pada tanggal 30 November kemarin. Ketika itu
pemaparan pak CT mengenai era distrubsi dan kepemimpinan inovasi sungguh sangat
menarik, karena dilengkapi dengan data-data yang jelas dan didukung dengan slide-slide
yang bagus.
Pak CT memaparan mengenai kondisi kita saat ini, utamanya
kondisi mellenial sekarang dalam
menghadapi era distrubsi, yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi
informasi. Menurut beliau, “ zaman sekarang orang akan lebih stress bila
ketinggalan HP-nya dibanding ketinggalan dompetnya. Generasi mellenial lebih banyak menghabiskan
waktunya di medsos. Juga generasi mellenial masih sangat di pengaruhi oleh
budaya konsumtif.”
Namun disini, saya kemudian tidak banyak mengomentari
mengenai isi dari pemaparan materi pak CT tersebut. Namun disini saya akan
lebih kepada pesan-pesan pak CT yang disampaikannya setelah pemaparan materi,
tanya jawab dan sampai kepada closing
statement selesai dari pak CT.
Berikut kemudian pesan-pesan yang beliau sampaikan atau
pesankan kepada peserta seminar tentang sebuah nilai-nilai kehidupan yang
tentunya bisa menjadi penyemangat untuk meraih kesuksesan dikemudian hari, yang
mungkin susah untuk kita dapatkan di ruang kelas. Yaitu yang pertama, beliau mengatakan,“mengapa
orang sukses tidaklah banyak di dunia ini? Karena, tidak ada orang yang sukses yang tidak
disiplin, tidak ada orang yang sukses yang tidak berusaha dengan keras, tidak ada orang yang sukses yang konsumtif, orang sukses bukanlah orang yang
pemalas. Sedangkan kebanyakan orang di dunia ini adalah orang yang sebaliknya
yaitu pemalas, tidak disiplin, dan konsumtif. Sehingga, jadilah orang yang
berbeda dari kebanyakan orang lain.”
Kemudian yang kedua, pesannya
untuk tidak menjadi orang yang hitungan-hitungan dalam memberikan suatu kepada
orang lain, seperti dalam bekerja. Usahakan
untuk mengerjarkan sesuatu sesempurna mungkin. Sesuai dengan usaha maksimal
kita. Dan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan media sosial
sebagaimana beliau tidak memiliki twitter, instagram, facebook dll. Sehingga
waktunya lebih banyak untuk bekerja.
(Catatan saya: tentu kalau Generasi Mellenial akan sulit
pada point ini. Karena sudah menjadi semacam kebutuhan pokok. Namun intinya
adalah bagaimana kita bisa memenej medsos
agar tidak mengganggu pekerjaan kita, karena banyak juga orang sekarang yang
menjadikan medsos semacam sumber penghasilan utama).
Kemudian yang ketiga, untuk
memulai segala sesuatu dengan “niat” yang baik. Karena segala keberhasilan dari
pak CT adalah berasal dari niat untuk bisa bermanfaat kepada sesama. Sehingga pesannya
mulai-lah dari “niat” yang baik.
Kemudian yang terakhir, yang keempat adalah semacam tantangan kepada peserta seminar. Bahwa
dalam waktu 20 atau 30 tahun kedepan agar siapa saja yang sudah sukses melebihi
dari pak CT, agar datang kepada beliau --ketika beliau masih hidup. Bahwa, “saya
sudah lebih sukses dari anda”.
Moderatorpun bersorak kepada peserta seminar,”siap menerima
tantang dari pak CT?”
“Siap!!!”. Jawab peserta seminar.
”siap menerima tantang dari pak CT?”
“Siap!!!”. Jawab peserta seminar sekali lagi.
---
Setelah seminar selesai, saya kemudian keluar dari ruang
seminar dan ingin melaksanakan shalat jumat –kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jum’at.
Namun karena saya belum tahu dimana tempat masjid UGM. Saya kemudian bertanya
kepada salah satu mahasiswa magister UGM yang ada disamping tempat duduk saya, yang tadi
saya temani bincang-bincang sebelum acara dimulai.
”mas, masjid UGM dimana ya?” tanya saya.
”ooh iya mas, mas nanti lurus terus, kemudian belok kiri, nah
setelah itu kelihatan menara masjid UGM”. Jawabnya.
“ok, terima kasih mas.”
“sama-sama”
Saya kemudian menuju kemasjid UGM, di masjid UGM lalu saya ‘merenung’,
kira-kira apakah saya bisa menjawab tantangan dari pak CT? Dalam hati saya kemudian
mengatakan,”Insya Allah pasti bisa”. Semoga, aminn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar