18 Januari 2019...
[18.41]
Hari ini adalah hari "Jumat", kegiatan saya seharian ini seperti yang menjadi judul tulisan saya adalah lebih banyak "searching" di Internet. "Rencana" saya untuk mencuci tidak terlaksana lagi. Padahal itu menjadi rencana saya hari ini.
Jadilah saya lebih banyak "berseluncur" di dunia maya (aduh kenapa bau "kopiah" saya di depan saya menusuk sekali, besok saya jemur kau!). Adapun hasil seluncuran saya di dunia maya seharian ini. Saya kemudian dipertemukan dengan berbagai macam "informasi". Seperti informasi tentang "Warkop DKI" mengenai sejarah, pendiri dan personilnya, informasi sepak "bola Indonesia" (kata salah satu Nitizen "Liga Busuk" yang dirindukan), informasi "politik" di Indonesia, dsb.
Saya ingin bercerita tentang Warkop DKI. Menurut penelusuran saya mengenai Warkop DKI mereka ternyata tidak hanya tiga orang saja, tapi personil "awalnya" adalah 5 orang. Saya sebutkan disini nama-namanya yang saya ingat, Rudi Badil, Nanu Mulyono, Kasino, Dono dan Indro. Awalnya memang hanya 3 orang yaitu Rudi, Nanu dan Kasino kemudian belakang bergabunglah Dono dan Indro. Sedangkan yang paling muda adalah Indro, karena "pertamakali" dia gabung masih kelas 3 SMA, sedangkan yang lainnya semuanya sudah kuliah di UI.
Namun dari kelima personil tersebut yang masih hidup sekarang tinggal dua orang yaitu Rudi Badil (pendiri Warkop DKI) dan Indro (yang paling akhir gabung). Sedangkan yang lainnya Kasino, Nanu dan Dono sudah "almarhum".
Apa yang mau saya ceritakan disini?
Setelah saya mengetahui kelima personil Warkop tersebut. Saya kemudian "penasaran" dengan sosok Rudi Badil sekaligus Founder dari Warkop DKI ini, karena jarang "kelihatan" di TV sedangkan yang keempatnya pernah saya lihat dan pemeran utama Warkop DKI, walaupun konon si Nanu hanya tampil dua kali dalam Film Warkop DKI sebelum "dipanggil". Jadi praktis yang sangat sering muncul dalam Film Warkop DKI adalah Dono, Kasino dan Indro (DKI). Adapun yang sampai sekarang masih "eksis" dan wara wiri di TV adalah tinggal Indro.
Kemudian karena saya penasaran dengan sosok Rudi Badil ini, saya melakukan penelusuran di Internet baik melalui "flatprom" you tube atau google crome. Ternyata pak Rudi adalah seorang wartawan "senior" yang bekerja di Kompas, juga penulis buku dan kawan dekat dengan Soek Hok Gie (yang belum tahu siapa Gie, saran saya cari di Internet, ya, hehe).
Pak Rudy tidak pernah muncul dalam film Warkop DKI, karena memiliki sifat "demam panggung" katanya. Namun ketika Warkop DKI belum masuk ke dunia Film, beliau masih sering tampil dengan Warkop DKI di Radio Prambros. Setelah Warkop DKI "beralih" dari Radio ke dunia Panggung dan Film. Pak Rudi kemudian berhenti dan menjadi wartawan. Perawakannya sekarang sudah memasuki usia "sepu".
Kemudian cerita selanjutnya, setelah saya searching tentang siapa Rudi Bagil ketemulah saya dengan sosok yang lain yaitu Pepih Nugraha. Beliau saya kenal karena tulisannya di internet itu, yang mengulas siapa Rudi Bagil. Seperti biasa ketika saya penasaran dengan seseorang maka saya "cari" profilnya di Internet. Saya tertarik dengan Pepih Nugraha ini karena tulisan yang dia tulis rapi dan enak dibaca. Setelah saya searching di Internet tentang profil beliau, kemudian saya temukan bahwa beliau adalah "mantan" wartawan senior Kompas. Dan boleh di bilang beliau juga adalah junior dari pak Rudi Bagil.
Pak Pepih menjadi wartawan di Kompas yang sebelumnya seorang Pustakawan. Karena suka "membaca" buku-buku yang banyak di perpustakaan kompas itu (namun sebenarnya memang sudah punya cita-cita jadi wartawan), kemudian beliau mencoba untuk menulis artikel dan dikirim ke Kompas sendiri dan media lain. Dan katanya tulisannya hampir selalu di terbitkan bahkan terkadang karena tidak "enak" namanya sering muncul dia pake' nama samaran. Bahkan honor dari tulisan-tulisan artikelnya tesebut lebih banyak dari gajinya sebagai pustakawan.
Setelah banyak menulis, kemudian beliau "diangkat" menjadi wartawan. Akhirnya beliau menjadi wartawan Kompas bertahun-tahun lamanya. Namun pak Pepih sudah resign dan mendirikan serta menjadi CEO Starup yang dia buat sendiri yaitu Selasar.com dan PepNews.com.
Ketika masih di Kompas ternyata beliau adalah founder dari "Kompasiana". Yaitu platform untuk warga yang ingin menuangkan tulisannya di media tersebut.
Yang membuat saya tertarik dengan pak Pepih ini adalah "gaya" tulisannya yang menarik dan enak untuk di baca. saya "berharap" mudah-mudahan saya bisa memiliki model tulisan seperti beliau. Amin.
Kemudian informasi yang "menarik" yang lain, dari searching saya hari ini yaitu tulisan dari pak Ahok di akun IG-nya yang akan segera bebas tanggal 24 Januari nanti. Tulisannya sungguh "menyentuh", berikut saya tampilkan SS nya.
---SS TIDAK TERBACA---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar