29 November...
Baik, saya akan melanjutkan catatan harian saya, kali ini
saya ingin menceritakan proses perjalan hidup saya pada tanggal 29 November
hari kamis kemarin --- karena saya menulis tulisan ini pada tanggal 30 November
hari Jumat. Tentu hari kamis kemarin adalah yang berkesan bagi saya. Mengapa
demikian? Karena saya menganggap bahwa hari kamis kemarin adalah hari terakhir
saya bertugas sebagai mahasiswa magang (jadi dosen) di UIN Sunan Kalijaga
(SUKA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Manajemen Dakwah.
Berkesan karena, salah satu yang mengganggu pikiran saya
sejak saat menjadi mahasiswa magister (s2), adalah field study (magang) ini ---
yang sudah disampaikan oleh ketua prodi sejak sosialisasi atau pengenalan
kampus, saat pertama kali menjadi mahasiswa Magister UIN SUKA bahwa nanti akan ada
semacam magang latihan menjadi dosen bagi mahasiswa S2.
Ada beberapa alasan sehingga kemarin menjadi berkesan bagi
saya: Pertama, pada saat s1 kemarin jurusan saya adalah campuran dari jurusan
agama (Tarjih atau Syariah) dan pendidikan agama Islam (PAI), lalu saya
mengambil s2 pada jurusan magister PAI konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam
(MPI) walaupun masih linear dari s1 saya, namun fokus kuliah saya adalah
mengenai MPI alias membahas mengenai manajemen pendidikan.
Sehingga secara otomatis ketika magang nanti, yang saya akan
ajarkan adalah mengenai MPI itu. Sehingga disanalah letak permasalahannya,
bahwa saya akan mengajari mahasiswa manajemen dengan materi-materi manajemen
yang baru saya dalami di level magister, dengan intensitas penguasaan materi
yang tentu berbeda dengan teman-teman saya yang memang sejak s1 berada di
jurusan MPI.
Kedua, jiwa saya adalah orang yang senang bergaul
sebenarnya, senang menambah pertemanan sehingga tentunya saya juga memiliki
beberapa teman yang mengenal saya. Olehnya itu sifat saya (senang bergaul)
tersebut sepertinya akan terkekang karena sebuah kondisi saya saat ini, yang
bahkan untuk menceritakan kepada orang saya kenal, saya merasa berat, mengenai
dimana saya tinggal saat ini?. Sehingga itu pula yang membatasi sifat mudah
bergaul saya tersebut. Ditambah dengan kondisi bagaimana saya berangkat kuliah
harus mengandalkan transfortasi umum (baca : TU) --- kalau saya ungkapkan ketika
lagi dikamar sepertinya saya menganggapnya tidak ada masalah, naik tranformasi
umum sebenarnya menyenangkan. Kita
tinggal duduk tanpa capek berkendara dan bisa melihat masyarakat yang begitu
beragam di atas TU.
Namun kenyataannya ketika saya sehari-hari mengandalkan TU jiwa
saya berontak yang itu tidak bisa saya lawan, yang kadang saya bertanya kepada
diri saya, kenapa saya harus seperti ini. Ingin berangkat harus pindah-pindah
jalur kemudian menunggu TU baru bisa berangkat , itupun kadang harus berdiri
bila tidak mendapatkan tempat duduk, kadang pas capek berat terpaksa saya tidur
sambil berdiri, atau pas lagi ada urusan penting tidak bisa kita langsung untuk
berangkat.
Secara kemudian saya sebenarnya memiliki kendaraan (motor), namun
apa dinyana kendaraa itu tidak bisa saya hadirkan karena sebuah aturan yang aneh.
Bisa dibayangkan sebagai mahasiswa s2, sudah dewasa, masih juga dijajah dengan
sebuah aturan tidak boleh membawah kendaraan. Dan kenyataannya ada juga tuh,
yang dibolehin bawah motor. Bahkan ada juga yang diam-diam (baca-
Sembunyi-sembunyi) bawah motor dan mereka (pembuat aturan ini) tahu bahwa mereka
bawah motor tapi tidak diapa-apain hanya dilihat-lihat aja. Kenapa kemudian
saya tidak bawah aja motor itu, nyata banyak yang melanggar? Ya, karena secara
prinsip kan, sebuah aturan harus diikuti katanya saya orang yang sudah belajar
sampai perguruan tinggi, belajar agama lagi, kenapa saya harus ikutan-ikutan
melanggar? Di mana letak suri tauladannya?... yang saya pertanyakan disini
adalah mengapa saya juga harus kena aturan itu (sudah dewasa)? Apakah saat ini
saya lagi di uji oleh Allah? Apakah ini kesalahan orang tua saya yang
memasukkan saya ketempat seperti ini?.
Kemudian kembali kepada permasalahan tadi bahwa bagaimana
bila mahasiswa magang saya bertanya dimana saya tinggal? Naik apa kesini?,
pertanyaan itu yang paling saya hindari, yang kemudian menjadikan saya tidak
memiliki keberanian untuk sekedar memulai perbincangan dengan orang yang baru
saya kenal.
Berdasarkan kedua alasan tersebut, yang hari-hari saya
dihantui ketika akan magang nanti, apa yang akan saya lakukan. Namun akhirnya
kemudian magangnya selesai dan saya anggap magang berjalan dengan baik dan
berkesan bagi saya, karena saya mendapatkan pengalaman baru mengajar mahasiswa
s1 manajemen dakwah dan juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai ilmu
manajemen, yang saya betul-betul saya dalami sebelum saya masuk kelas.
Dimana banyak kejadian-kejadian juga yang menyertainya,
seperti: saat saya harus berfikir keras
apa yang akan saya bawakan kedalam kelas, saya harus bertanya kepada dosen
pamong terlebih dahulu mengenai apa yang akan saya lakukan dan sampaikan saat
tampil nanti, juga ketika harusnya saya mengajar di prodi MPI lalu berpindah ke
prodi MD (Manajemen Dakwah), kemudian setiap beberapa menit sebelum masuk kelas,
saya kadang mengunggu jam pelajaran tiba, saya mengasingkan diri dulu di dalam
WC, karena di WC-lah sekalian saya mengeluarkan kotoran disitu juga kadang saya
belajar, Juga kejadian dimana saya tidak
mengikuti wisudahan dan shalat lail berjamaah karena kepikiran materi yang akan
saya bawakan belum saya buat satupun dalam bentuk PPT dan juga, buku-buku
manajemen kinerja yang pinjam di
perpustakaan UIN, yang memenuhi tas saya, selalu terlambat saya kembalikan.
Itulah sekelumit cerita saya saat melakukan field study sebagai salah
satu mata kuliah di magister MPI UIN Suka dengan berbagai liku-likunya, yang
berakhir dengan haru bercampur bahagia. Haru karena ternyata kelas yang saya
hadapi yang awalnya kelihatannya adalah kelas yang ‘spesial’ dan juga kelas
yang termasuk senior (S. 5 dan 7), ternyata mereka lumayan antusias dengan
materi yang saya sampaikan.....
Field study selesai... tantangan selanjutnya adalah
penelitian tesis......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar